Book Quickies

September 25, 2007

Abarat: Days of Magic, Nights of War

Filed under: western — mina @ 7:18 am

oleh Clive Barker
Diterjemahkan menjadi Siang-Siang Magis, Malam-Malam Peperangan
Penerjemah Tanti Lesmana
Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007
ISBN-10: 979 22 2755 5, ISBN-13: 978 979 22 2755 0
503 halaman

Ini adalah buku kedua dari 4 serial fantasi The Books of Abarat yang direncanakan ditulis oleh Clive Barker (baru-baru ini dikatakan akan ada buku kelima juga). Buku pertamanya berjudul Abarat. Tidak lengkap rasanya membahas buku kedua tanpa membahas buku pertama. Jadi akan ada sedikit spoiler untuk buku pertama, sehingga para pembaca yang belum membaca buku pertama, hati-hati….

Di buku pertama, kita diperkenalkan dengan banyak sekali tokoh yang mempunyai bermacam-macam bentuk dan berwarna-warni (secara harfiah). Di antaranya adalah seorang manusia sekaligus tokoh utama, Candy Quackenbush, yang berasal dari “kota yang lebih banyak berisi ayam daripada manusia“, yaitu Chickentown, Minnesota. Pertemuannya dengan John Mischief dan tujuh saudaranya (yang hidup di badan yang sama dengannya, tepatnya di ketujuh tanduk di kepalanya) di sebuah padang rumput di Chickentown adalah awal dari segala petualangan Candy di Abarat. Usaha Candy untuk menyelamatkan John dari kejaran Mendelson Shape ternyata telah menyebabkan munculnya Laut Izabella di padang rumput tersebut, yang kemudian membawa Candy masuk ke dunia paralel, yaitu Abarat. Oleh Abarat, dunia kita disebut dengan Hereafter.

Abarat adalah sebuah dunia (yang kelihatannya rata, hmmm, aneh, akhir-akhir ini aku kok terus menerus membaca buku tentang flat world, ya) yang terdiri dari 25 pulau, dan di setiap pulau mempunyai jam yang sama sepanjang hari/malam, tergantung pulau itu jam berapa. Dan kalau kita tahu di dunia kita ada 24 jam, di sana ada jam ke-25, yaitu di pulau yang diberi nama Odom’s Spire. Setiap pulau mempunyai namanya sendiri-sendiri, dan bentuknya juga aneh-aneh. O ya, saya lupa bilang, buku ini dibuat secara eksklusif, dengan sampul yang penuh warna, dan penuh dengan ilustrasi di hampir setiap halaman bukunya, dibuat oleh Barker sendiri. Bagaimana lagi kita bisa membayangkan tokoh-tokoh dalam tulisan imajinatif Barker kalau tidak diberi ilustrasi? Biasanya kita lebih suka sebuah buku membiarkan kita berimajinasi sendiri tentang tokoh-tokohnya, namun khusus untuk serial ini, tokoh-tokohnya dideskripsikan dengan begitu aneh, sehingga hanya Barker yang mampu mengilustrasikannya dalam pikirannya.

Balik ke pulau-pulau tadi. Di buku satu, disediakan peta seluruh Abarat (didasarkan pada Almenak Klepp, sebuah traveller’s guide di Abarat), untuk memudahkan kita mengerti perjalanan Candy. Pulau-pulau yang perlu disebutkan adalah Pyon (Pulau jam 3 pagi) yang merupakan Pulaunya Rojo Pixler, sang penguasa Commexo City; Nonce (Pulau jam 3 sore), pulau yang indah dan membuat pengunjungnya mengantuk; Babilonium (Pulau jam 6 sore), mungkin bisa disamakan dengan Pulau Kesenangan dalam cerita Pinokio; Yebba Dim Day (Pulau jam 8 malam), pulau pertama yang didatangi oleh Candy, berbentuk kepala; Ninnyhammer (Pulau jam 9 malam), dimana terletak rumah sang penyihir Kasper Wolfswinkel dan budaknya Malingo; dan Gorgossium (Pulau Tengah Malam), kediaman tokoh antagonis dan menurutku terkeren (dan tokoh yang paling sakit hati) di Abarat, Christopher Carrion, yang tinggal bersama neneknya yang lebih jahat lagi (sang nenek ini sempat menjahit mulut cucunya gara-gara Carrion ngomongin tentang cinta, nenek apaan sih ini?), Mater Motley (nama aslinya Thant Yeyla Carrion). Dan oh ya, tentu Odom’s Spire, pulau misterius kediaman tiga bersaudara Fantomaya, yaitu Diamanda, Joephi dan Mespa, yang mengawasi dan ikut campur dalam segala hal yang terjadi di Abarat (dan dunia kita) untuk menjaga keseimbangan.

Secara singkat, buku satu berisi dengan perkenalan dengan seluruh tokoh penting di Abarat dan jutaan (oke aku melebih-lebihkan) makhluk aneh lainnya yang tidak berkaitan langsung. Kita juga diberikan gambaran garis besar bahwa Carrion, entah kenapa, selalu ingin menangkap Candy, dan, entah kenapa, Candy selalu berhasil lolos, dengan kekuatan yang dia juga tidak mengerti datang dari mana. Candy juga merasa deja vu ketika berada di Abarat, dia merasa dia pernah berada di Abarat sebelumnya.

Di buku dua, sesuai judulnya, bisa kita duga bahwa akan terjadi peperangan besar antara Carrion dan Mater Motley beserta para pengikutnya, dengan penghuni pulau-pulau lain yang secara tidak resmi dipimpin oleh Candy; singkatnya, perang antara Malam dan Siang. Malingo, seorang geshrat yang telah diselamatkan Candy dari perbudakan di kediaman sang penyihir Wolfswinkel, mengiringi Candy, sekaligus menyuplai Candy dengan berbagai jampi-jampi yang dipelajarinya secara diam-diam di rumah Wolfswinkel, sehingga membuat Candy semakin mudah lolos dari kejaran anak buah Carrion. Hal-hal yang tidak dipahami Candy di buku satu akan terjawab di buku dua, tentang kenapa dia merasa pernah berada di Abarat, mengapa Carrion terus-menerus mengejarnya, dan dari mana segala kekuatan yang dimilikinya. Carrion, sang pemilik kerah yang keren, dan Mater Motley beserta para penjahit-makhluk-tambal-sulam-nya akan lebih banyak kiprahnya, ah, menyenangkan sekali. Carrion bahkan muncul lengkap dengan puisinya. Entah kenapa ya, aku sangat simpati pada Carrion, after all, dia adalah korban putus cinta dan menjadi seperti sekarang karena didikan jahat neneknya -injek-injek Mater Motley- Dan satu lagi, ada yang jatuh cinta pada Candy, lho…

Buku dua terasa lebih melelahkan membacanya daripada buku pertama. Buku pertama membuat kita terus berharap dan mengantisipasi akan terjadi sesuatu, walau agak kecewa karena buku satu, walau cukup banyak kejar-kejarannya, tidak berakhir pada perang yang diharap-harapkan terjadi. Sedangkan buku dua, sebelum perang benar-benar terjadi, membuat kita capek dengan perjalanan (atau tepatnya pelarian) Candy dan Malingo kesana-kemari mengelilingi Abarat. Jadi ingat Eragon buku satu, yang aku paksa-paksakan banget selesai. Perangnya cukup dahsyat walau kurang berdarah-darah hohohoho…. What’s with me. Tapi saya cukup puas, walau -spoiler nih- agak sedih karena kehilangan seorang tokoh penting.

Buku ketiga yang rencananya akan keluar musim gugur tahun 2008, Absolute Midnight, dengan hilangnya satu tokoh penting, tidak akan seasik buku dua, menurutku. Dari judulnya saja kita tahu pihak mana yang akan berkuasa di buku tiga. Barker bilang bahwa buku ketiga akan jadi buku yang terpanjang dari serial Abarat. Saya tidak bisa membayangkan, bentuk makhluk macam apa lagi yang bisa muncul di buku tiganya, imajinasinya tidak habis-habis. Bayangkan, Barker bahkan bisa membuat makhluk hanya dengan berbahan tali-temali, patahan-patahan kayu dan robekan kain kanvas dari kapal Wormwood, kapal perangnya Carrion. Kamu harus lihat ilustrasinya, so weird dan kalo bener-bener ada, horor banget pasti. Ilustrasi buku ini tetap sedahsyat yang pertama, cuma mulai agak berkurang jumlahnya, mungkin karena bukunya lebih tebal, ya. Kabarnya Barker menghabiskan waktu empat tahun untuk melukisnya (ada sekitar 300 lukisan), baru kemudian menulis serial Abarat ini. Cover buku dua kali ini berwarna terang-benderang, oranye, dan seperti dulu, kata Abarat-nya adalah ambigram.

Penerjemahannya cukup enak dibaca, walau menurut saya sih, judulnya tidak usahlah diterjemahkan. Jadi aneh gitu dibacanya.

Jadi bagaimana kesimpulannya? Serial yang patut diteruskan untuk dibaca? Tentu, penasaran juga apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Candy dan para makhluk tengah malam. Mudahan buku selanjutnya tidak terlalu bertele-tele.

Mau baca review lainnya? Silakan di:

10 Comments »

  1. yah, mau terbit buku ketiga itu di 2008, kebayang gak tuh, kapan lagi kita bakal bisa dapat edisi terjemahannya? hueheehehhe

    Comment by kobo — September 25, 2007 @ 5:23 pm

  2. hah, setahun lagi pasti, kayak yang ini :(

    Comment by mina — September 25, 2007 @ 7:30 pm

  3. *nunggu* janjinya mau minjemin!?

    Comment by manusiasuper — September 25, 2007 @ 9:50 pm

  4. kapan aku janji minjemin? perasaan itu Bartimaeus deh :D

    Comment by mina — September 25, 2007 @ 9:52 pm

  5. weh, setahun mending tuh min, kalo 4 tahun? hihihihi

    kan buku kedua ini terjemahan baru nongol setelah 4 tahun kan?

    jadi bisa tahun 2012? huah… dah tua deh…

    Comment by kobo — September 26, 2007 @ 11:16 pm

  6. oh gitu? 4 tahun? jangan2 aku dah punya anak 2 ;p

    Comment by mina — September 27, 2007 @ 4:54 am

  7. Baca abarat itu kayak fitnes. Melelahkan, cape, berharap ada datang member baru atau instruktur baru buat ganti suasana. Tapi setelah kelar satu program, eh baru deh terasa. Ciut di sini, mantap di sini.
    Hehe, tiap selesai baca abarat, daya imaginasi tuh rasanya nambah kelenturannya.

    Comment by Rudi — September 27, 2007 @ 10:42 am

  8. wah…udah lama bgt baca buku pertamanya…abis rentang waktunya lama bgt. Baca lagi ah, biar inget lagi. Tapi salah satu yg bikin gw seneng ama Abarat itu imajinasinya! apalagi ditambah ilustrasi yg keren-keren. Oh iya..katanya Abarat mau difilm-in ya?

    Comment by Miranti — October 31, 2007 @ 4:30 pm

  9. wah, ternyata ada empat or lima jilid toh…
    hmm.. mending jadi ngoleksi atau ngga ya.. nana masih belum dapat buku pertamanya, jadi nana belum baca.

    tapi terbitnya lama ya jedanya? atau lama dikarenakan menerjemahkannya itu sulit? Gimana bung Q? ada kabar or penjelasan yang bung Q dengar kah di gramedia? :P

    btw untuk semuanya, salam kenal :)

    Comment by nana — December 27, 2007 @ 9:07 am

  10. kok aku disebut Q, ya? :D

    Comment by mina — December 27, 2007 @ 4:31 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.