Boekspot (dan Book of Spells!) di Utrecht

Sebagai pencinta buku, siapa yang tidak menyukai library? Library sederhana seperti perpustakaan sekolah saja sudah bikin hati bahagia, apalagi berbagai library berasitektur indah dengan buku-buku langka yang berada di berbagai kota di dunia. Sidenote sebentar: dalam beberapa bulan ke depan saya akan mengunjungi salah satu perpustakaan indah di ibukota negara asal the handsome Tom Branson-nya Downton Abbey! *excited gak karuan. Teman seperjalanan jauh-jauh hari sudah mengirimi saya link tentang perpustakaan ini. Semoga tidak ada aral melintangūüôā

Omong-omong tentang library, beberapa waktu lalu, mungkin 2009-an, dunia perbukuan dan perpinjambukuan diramaikan dengan ide micro-library. Apa itu? Dari namanya, bisa diartikan perpustakaan kecil. Bentuknya bisa macam-macam, tapi kata kuncinya: kecil. Bisa hanya seukuran kotak pos dengan beberapa buku di dalamnya. Bisa seukuran ruangan kecil dengan beberapa rak. Tujuannya adalah untuk memasyarakatkan gemar membaca, bahkan untuk kalangan yang tidak mampu atau tidak mau mengeluarkan uang untuk membaca. Buku-buku diletakkan di micro-library, dan siapapun yang lewat silakan membaca atau membawa pulang. Kalau sudah selesai silakan diletakkan kembali, atau boleh dipinjamkan ke orang lain. Akan sangat diapresiasi kalau ada yang meminjam satu buku dari micro-library sambil meletakkan  satu buku miliknya di sana untuk dibaca orang lain. Tapi hal ini tidak wajib. Dan semuanya self-service. Gak ada yang menjaga. Gak ada yang mencatat siapa meminjam apa. Dan semuanya gratis. Konsepnya mirip BookCrossing tanpa ada kewajiban mencatatkan tracking perolehan buku tersebut di internet. Asik ya? Di Indonesia katanya juga sudah mulai ada, setidaknya teman di Bandung bilang gitu. Continue reading

Judge a Book based on Page 112

don__t_judge_a_book_by_its_cover_by_wishinghoshi-d5l7wrj

Dont’t judge a book based on its cover. Art by Wishinghoshi¬†

Bagaimana cara dirimu menentukan buku yang akan dibaca atau dibeli? Berdasarkan cover? Berdasarkan nama pengarang? Berdasarkan rating teman di Goodreads? Berdasarkan harga, misalnya diskonan (apalagi free)? Berdasarkan hasil membaca halaman pertama atau bab pertama? Berdasarkan sinopsis di belakang buku? Berdasarkan rekomendasi penjaga toko buku? Atau karena bukunya lagi hype? Mau difilmkan misalnya? Duh, paragraf ini penuh tanda tanya.

Setiap orang punya kriterianya sendiri. Buat diriku, pertama adalah pengarang (yang biasanya juga berarti genre). Semua buku Terry Pratchett, misalnya, pasti bagus (walau sempat salah sekali waktu dia kolaborasi dengan another one of my favourite authors, Stephen Baxter). Kemudian cover. Diriku bisa membeli buku hanya karena cover-nya. Susah dijelaskan tipe cover seperti apa. Semacam love at first sight gitu. You don’t know what makes you love it. You just do. Kemudian rating teman di Goodreads atau pendapat penjaga toko buku yang diriku tahu benar seleranya, penting ini. Kemudian harga. Mau semua hal sebelumnya di atas positif, kalau harga di atas 10-12 euro (kalau di Indonesia, buku Indonesia limitny 65 ribu, buku impor limitnya 100 ribu), saya menyerah. Kalau harga buku itu diskon, apalagi free, kadang semua hal sebelumnya bisa dilanggar. Gak konsisten gini.

Tapi diriku tidak pernah membeli atau memilih buku berdasarkan bacaan di sinopsis atau bacaan di bab pertama. Simply karena sinopsis kadang ditulis dengan jelek tanpa bisa memberikan poin menarik, padahal bukunya bagus. Dan tidak semua buku bagus sudah mulai panas mesinnya di bab pertama (Contoh: Cryptonomicon yang baru asik sesudah 100-an halaman). Selain itu, tidak semua buku yang bagus di awal, akan bagus di tengah dan akhir. Nampaknya penulis (dan editor) tahu calon pembeli akan membaca halaman-halaman pertama sebelum membeli, jadi mereka fokus di sana, dan kadang semakin melemah mendekati akhir.

Nah, hari ini membaca artikel menarik di The Guardian. Continue reading

Memperkenalkan DailyLit

walking-with-cell-phones

Sebagian besar dari kita (diriku termasuk) berkeluh kesah tentang kesulitan menyelesaikan membaca 1 buku. Alasannya macam-macam selain the obvious (bukunya jelek), gak ada waktu, gak ada buku buat dibaca, malas bawa buku cetak kemana-mana. Tapi kok punya waktu untuk mengecek FB atau WA di henpon, bahkan mau berjam-jam terlibat diskusi panas tentang topik yang kita sangat ingin seluruh dunia tahu pendapat kita.

Atau dirimu ingin sekali-sekali selesai membaca buku klasik yang kata orang bagus tapi kita gak sanggup membacanya karena terlalu tebal?

Tidak bisa melepaskan diri dari henpon atau gadget elektronik lainnya yang pake layar, walau sebentar saja?

Apakah dirimu punya waktu 15 menit untuk dialokasikan dalam sehari? Yap, 15 menit saja.

Kalau jawabannya Ya, mari kita berkenalan dengan DailyLit. Sebenarnya sudah lama layanan ini ada. Diriku lupa tahun berapa ya. Jadi DailyLit ni adalah layanan gratis untuk membaca buku 15 menit dalam sehari. Continue reading

Scribd: “Membaca” Ebooks dan Audiobooks Secara Legal

downloadAkhir tahun lalu, dalam upaya keras memenuhi My 2015 Goodreads Book Challenge yang berjumlah 20, sementara sampai akhir Oktober baru membaca 12 buku, akhirnya diriku berpikir, gimana ya caranya biar bisa cepet selesai 1 buku? Ya ya ya, diriku lebih banyak mendedikasikan waktu dan otak untuk memecahkan masalah-masalah penting begini dibandingkan masalah pekerjaan.

Selama ini kan, bacanya pake paper-book, yang artinya bukunya kemana-mana harus dibawa (an additional bulk in my already-filled-to-the-brim backpack). Dan juga perlu waktu dan lokasi dan situasi yang tepat untuk membaca, misalnya pas di perjalanan agak panjang (naik bis/trem/kereta), atau kalau di rumah enaknya di bawah selimut, dengan teh panas dalam jangkauan tangan. Nah, masalahnya, kalo public transpor lagi penuh, rada susah megang buku (mana pegangan ke tiang karena harus berdiri). Dan di bawah selimut itu sama dengan menyuruh tidur.

Trus diriku mendapat ide cerdas. Bagaimana kalau mencoba audiobook saja?  Sebenarnya sih, ide ini bukan muncul begitu saja di kepala. Ada yang menyebut-nyebut sebelumnya. Jadi gini, sejak awal Desember 2015, dalam upaya menambah list cara berprokrastinasi, diriku mencoba-coba mendengarkan Podcast berbagai topik, dan jatuh cinta pada 2 book-related podcasts, yaitu Book Riot dan Literary Disco. Diriku akan menyanyah panjang lebar tentang kedua streaming podcast tersebut nanti ya kapan-kapan (ini kayak teaser aja). Nah, Book Riot ini punya sponsor tidak tetap, dan mereka biasanya mempromosikan sponsornya di sela-sela obrolan ngalor ngidul mereka tentang buku. Salah satu sponsornya adalah Scribd.  Continue reading

Daftar Buku 2015

catYa ampun, terakhir post daftar buku ternyata tahun 2011. Ini pasti gara-gara diriku menyimpan list-nya di Goodreads Reading Challenge, jadi malas nulisnya di sini. Tapi mulai tahun ini, dengan semangat mewujudkan salah satu resolusi 2016, yaitu membaca lebih banyak (for pleasure) dengan genre yang lebih luas daripada tahun-tahun lalu (tahun 2014 bacanya cuma SF/F), PLUS menuliskan reviewnya, PLUS ingin memasukkan blog ini dalam komunitas Blogger Buku Indonesia (masih ada gak sih komunitas ini?), maka blog ini akan di-update lebih rajin. Kali ini tidak akan hanya berisi review buku, tapi akan lebih banyak post tentang book-related topics. Biar lebih bisa dibaca (ada yang komen: blog buku isinya review itu unreadable, terutama buat yang gak baca bukunya atau bukan pembaca buku). Continue reading