How to be A Pirate

Hiccup Horrendous Haddock III
Diceritakan kembali oleh Cressida Cowell
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Mutia Dharma
Little K, Bandung, 2006
ISBN 979 3659 64 5
248 halaman

Ini adalah buku kedua dari rangkaian (hopefully) catatan harian Hiccup Horrendous Haddock III, seorang pahlawan Viking dan Ahli Waris Tahta Stoick Agung dari suku Hooligan Berbulu, sesudah catatan hariannya yang pertama tentang How to Train Your Dragon diterbitkan. Tapi tentu saja catatan harian ini dibuat sebelum Hiccup menjadi pahlawan, pada waktu ia masih kecil. Buku ini dibuka dengan salah satu mata pelajarannya dalam Program Pelatihan Bajak Laut, yaitu Adu Pedang di Laut, dengan guru the-one-and-only Gobber the Belch.

Kalau kalian sudah baca buku pertama, kalian tentu tahu bahwa Hiccup adalah karakter yang sangat manusiawi. Hiccup hanyalah anak berusia 11 tahun dengan kemampuan kebajaklautan yang bisa dibilang nol, walau kelihatannya dia dianugerahi oleh kecerdikan, dan, erm, keberuntungan di saat-saat yang genting, selain kebaikan hati dan kesetiaan. Kemampuan kebajaklautan yang harus dimiliki oleh orang-orang Viking tercermin dalam daftar pelajarannya: Adu Pedang di Laut, Meludah, Dasar-dasar Pencurian, Menakuti Orang Asing, Teriakan Maut, Melatih Naga, Hinaan Tingkat Tinggi, Bola Bashy, Persenjataan, Perampokan, Kekejaman Tanpa Ampun, Corat-coret tanpa Guna, dan Mengejjja. Tak satu pun dikuasainya, sementara Snotlout, sepupunya yang berbadan besar dan meyakinkan, adalah yang nomor satu dalam semua mata pelajaran.

Jadi bisa terbayang bagaimana perasaan Hiccup di atas dek kapal di tengah badai dengan tangan memegang pedang pemberian ayahnya dan harus melawan Dogsbreath, yang tak kalah besar dari Snotlout. Tapi, seperti biasa, keberuntungan berpihak pada Hiccup: kapal terbalik, dan Hiccup kemudian harus berpegangan dengan sebuah benda terapung agar tidak tenggelam. Nah, benda inilah yang menjadi sebab-musabab terjadinya kisah dalam buku ini. Benda terapung itu adalah peti mati, yang di tutupnya tertulis bahwa itu adalah peti mati Grimbeard the Ghastly, kakek buyut Hiccup.

Grimbeard the Ghastly digambarkan sebagai bajak laut Viking yang ahli pedang. Suatu hari, Grimbeard tidak kembali dari salah satu ekspedisinya, dan dia hilang membawa harta karunnya yang kabarnya berlimpah-limpah. Itu terjadi 100 tahun yang lalu.

Dan sekarang, peti matinya berada di hadapan keturunannya, kepala suku Hooligan, Stoick the Vast. Walau jelas-jelas di tutup kotaknya tertulis “Awas! Jangan membuka peti mati ini!”, rasa ingin tahu membuat peti mati itu akhirnya dibuka, memunculkan seseorang yang misterius bermana Alvin si Petani-Miskin-Tetapi-Jujur. Alvin membawa peta dan teka-teki yang menunjukkan lokasi harta karun Grimbeard. Peta dan teka-teki tersebut membawa para pahlawan Hooligan dan anak-anaknya bertualang ke pulau Tengkorak, tempat Skullions, naga berukuran tinggi lebih dari 3 meter yang buta, tuli, tidak bisa terbang, namun mempunyai indera penciuman yang sangat sensitif, serta mempunyai kebiasaan memakan apa saja yang ditemuinya. Para naga suku Hooligan dibawa, karena naga terkenal mampu membaui emas dan permata, walau terkubur jauh di dalam tanah.

Apakah petualangan mereka berhasil? Apakah ada harta di pulau itu? Dimana dan siapakah yang berhasil menemukan harta tersebut? Apakah mungkin Grimbeard the Ghastly yang terkenal bengis akan membiarkan orang-orang yang bukan pewaris aslinya mengambil hartanya begitu saja? Bagaimana mereka berhasil selamat keluar dari pulau Tengkorak tanpa diamuk oleh gerombolan Skullion?

Dalam petualangan kali ini Hiccup banyak belajar. Dia menemukan kemampuan yang tidak diduganya. Hiccup juga melihat bahwa ayahnya, dan kebanyakan Viking dewasa lainnya, sangat terobsesi dengan kekayaan dan kekuasaan, dan berani saling menghancurkan bila perlu. Tetapi, dia juga melihat bahwa ketika menghadapi musuh, orang-orang suku Hooligan adalah orang yang setia kawan.

Dimana Toothless, si bandel, naga Hiccup yang cerewet, malas, egois, dan tidak bisa diatur? Dia tetap setia mendampingi Hiccup ke mana-mana. Tidak seperti naga-naga lain, yang kesetian mereka pada majikan mereka sangat tergantung situasi dan kondisi, Toothless menunjukkan komitmen yang hampir tidak bisa dipercaya (kalau mengingat tingkah lakunya sehari-hari) kepada Hiccup di saat-saat bahaya datang. Pokoknya, Toothless, walau kadang manja dan menyebalkan, tetap tokoh paling adorable, deh!

Fishlegs, sobat Hiccup dan another loser dalam kelompok anak-anak suku Hooligan, sekali ini lebih banyak kiprahnya. Seperti Toothless, dia mengikuti Hiccup kemana saja Hiccup pergi, dan turut membantu (atau menyulitkan?) Hiccup.

Cerita lucu ini sebenarnya buku untuk anak, walau kata-kata dan perilaku para bajak laut di sini kurang pas buat dibaca anak-anak. Yah, bimbingan orang tua lah 🙂 Gambar-gambarnya juga tetap lucu, garis-garisnya patah-patah seperti gambar anak-anak, dan huruf-hurufnya mencong-mencong. Banyak tetesan tinta di sana-sini, karena, after all, buku ini kan sebenarnya catatan harian Hiccup.

Buku diakhiri dengan pertanyaan terbuka untuk buku berikutnya. Jadi, ikuti terus petualangan Hiccup selanjutnya…

Advertisements

One thought on “How to be A Pirate

  1. (test buat recent comment nya nih, hihihi)

    tapi sekalian deh,
    aku paling suka ama toothless, abisnya lucu banget, naga super kecil, tapi tengilnya amit-amit…
    ha ha ha

    ^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s