Pinokio

Carlo Collodi
Diterjemahkan dari Pinocchio: Tale of A Puppet
Diterjemahkan oleh Wiwin Indiarti
Illustrasi oleh William D Kuik
Liliput Jogjakarta, 2005
ISBN 9793813024
282 halaman

Siapa yang tidak tahu kisah Pinokio, salah satu dari classic children literatures yang paling terkenal? Sebegitu populernya, sehingga istilah hidung memanjang sudah dipahami sebagai berbohong. Sejak kecil kita sudah membaca atau menonton filmnya. Paparan pertamaku pada Pinokio adalah dengan buku cerita bergambar berukuran sebesar majalah. Gambarnya berwarna dan bagus sekali, sayang tidak tahu siapa penerbitnya (kelihatannya terjemahan), dan sekarang juga entah kemana raibnya buku itu. Yang jelas buku yang kubaca dulu berbasis pada Pinokio versi Disney.

Dari buku itu, aku kenal Pinokio sebagai boneka kayu yang baik hati, tetapi ditipu oleh pemilik sirkus Stromboli dan kemudian oleh serigala jahat Foulfellow dan kucing tolol Gideon, kemudian juga oleh orang (lupa namanya) yang membawanya naik kereta yang ditarik keledai (oh they are so adorable!) ke Pulau Kesenangan. Di rumah Geppetto, Pinokio tinggal dengan Jimini Jengkerik (makhluk keren berjas tuxedo, topi tinggi dan payung sebagai tongkatnya) yang oleh Ibu Peri dijadikan penjaga hati Pinokio, kucing bernama Figaro, dan ikan mas bernama Cleo, semuanya kemudian pergi bersama Geppetto mencari Pinokio, sampai tertelan oleh ikan paus. Di Pulau Kesenangan, Pinokio digambarkan memegang cerutu, berjalan di jalanan yang di sepanjang tepinya berjajar-jajar es krim raksasa (jaman dulu kan jarang bisa beli es krim, jadi dulu suka betul memandangi gambar ini) dan kue-kue raksasa. Pinokio banyak ditolong oleh Ibu Peri yang disebut Peri Biru. Peri ini pulalah yang kemudian mengubahnya menjadi manusia.

Tetapi bukan cerita indah seperti itu yang ada pada buku ini. Ternyata, buku Pinokio untuk anak-anak itu telah diadaptasi biar tidak terlalu menyedihkan. Bagaimanakah sebenarnya kisah Pinokio?

Cerita dimulai dengan seorang tukang kayu yang mendapatkan bahwa sepotong kayu yang akan dijadikannya kaki meja ternyata bisa berbicara. Tidak hanya itu, kayu itu juga bisa bergerak sendiri memukul tukang kayu dan Geppetto yang saat itu datang ke rumahnya, memicu perkelahian antara mereka. Kayu itu kemudian diberikan pada Geppetto untuk dijadikan boneka. Boneka yang kemudian diberi nama Pinokio itu sudah kurang ajar sejak awal: melotot, menertawakan, menjulurkan lidah, mengambil wig, menendang, melarikan diri, bahkan mengakibatkan Geppetto masuk penjara. Hidungnya sudah panjang (dan tidak bisa dipendekkan dengan memotongnya) sejak dibuat. Pinokio juga sangat malas. Janji-janji yang dibuatnya berkali-kali dilanggar.

Jimini Jengkerik adalah tokoh yang diperkenalkan dalam film oleh Walt Disney. Di buku ini, Jimini Jengkerik sebenarnya tidak punya nama, dan tidak berpakaian. Jengkerik itu berada dalam bentuk jengkerik yang sebenarnya. Dia muncul beberapa kali, sebagai penasihat, yang tak dipedulikan oleh Pinokio, bahkan dibikin gepeng olehnya dengan palu.

Walau Pinokio sebegitu menyebalkan, Geppetto tetap sabar dan baik padanya (aku tambah sebal). Mulai dari memberikan sarapannya untuk Pinokio, memasangkan kaki baru (kaki lama Pinokio terbakar waktu tidur dengan kaki terjulur ke perapian), menjual jaketnya satu-satunya untuk membelikan buku ejaan, dan macam-macam lagi. Pinokio malah membalasnya dengan menjual buku ejaannya demi menonton pertunjukan boneka.

Karena kebodohannya, Pinokio juga jatuh berulang kali ke tangan si jahat Rubah dan Kucing, yang menipu, mengambil uang, dan menggantung Pinokio di pohon. Ia juga diselamatkan berulang kali oleh Peri berambut biru (mulai dari wujud boneka kecil sampai wanita dewasa). Pendeknya, kekurangajaran, kenaifan, dan kemalasan Pinokio seakan tidak ada habisnya. Tapi pada akhirnya, sesudah mengalami banyak kesengsaraan, Pinokio yang pada dasarnya tidak jahat dan sebenarnya sangat menyayangi Geppetto, akhirnya memperoleh apa yang diinginkannya. Usaha kerasnya untuk menolong Geppetto dari perut ikan paus dan menyembuhkan Geppetto telah menjadikan dirinya pantas menjadi manusia yang sebenarnya, flesh and blood.

Sebegitu panjang, berbelit dan sarat realita brutal semua hal yang harus dialami Pinokio untuk menjadi manusia seutuhnya (caila…), tidak heran oleh media film untuk anak-anak dibuat lebih sederhana dan kurang sengsara dibanding aslinya. Bahkan, di edisi asli Pinokio (yang serial di majalah), cerita berakhir dengan Pinokio mati digantung. Tokoh Peri Biru baru dimunculkan ketika kisah Pinokio dibuat menjadi buku, dimana Peri Biru ini menyelamatkan Pinokio.

Untuk orang dewasa, buku ini terasa agak membosankan, karena kebodohan Pinokio yang serasa berlebihan. Jalan ceritanya terasa absurd. Bukan berarti aku tidak suka cerita yang absurd; Alice in Wonderland, Alice through Looking Glass, buku-buku Kobo Abe, semuanya absurd, tetapi nyaman dibaca. Pinokio ini terlalu berkepanjangan. Buku ini juga sarat dengan allegori dan nasihat.

Ilustrasi buku ini, yang dibuat oleh William D Kuik, agak aneh dan sulit dipahami. Ilustrasinya kadang seperti sketsa gambar untuk komik yang ditumpuk jadi satu. Jadi, misalnya untuk menggambarkan gerakan mengangkat tangan, ada sketsa ketika tangan masih belum diangkat, ketika tangan diangkat sedikit, lalu ketika tangan diangkat lebih tinggi lagi, dst, semua ditumpuk jadi satu. Creepy, kadang-kadang.

Carlo Collodi, aka Carlo Lorenzini (1826-1890), adalah jurnalis, penulis, dan pengamat pendidikan. Pinokio sebenarnya mempunyai judul asli Storia di un burattino (Kisah sebuah Boneka), dan awalnya ditulis secara berseri untuk mingguan anak Il Giornale dei Bambini. Pinokio, dalam bahasa Tuscany berarti “pine nut“.

Ada 36 bab dalam buku ini dan judul-judul tiap babnya panjang dan jadi spoiler untuk cerita dalam bab tersebut, persis seperti cerita-cerita klasik jaman dulu. Tidak heran, buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1883 di Italia, dan waktu itu buku ini laku 1 juta eksemplar, bayangkan. Ilustrator aslinya dibuat oleh Attilio Mussino, dan buku edisi pertama ini disebut-sebut sebagai buku anak dengan ilustrasi terbaik.

Pinokio telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 90 bahasa (katanya sih nomor 2 dicetak terbanyak sesudah Quran dan Injil) dan diadaptasi ke dalam 11 film berbahasa Inggris, belum yang dibuat dalam bahasa aslinya, Italia, dan bahasa-bahasa lain. Versi Walt Disney (1940) yang paling terkenal. Dalam versi ini, oleh Walt semua tokoh diubah habis-habisan, mulai penampilan sampai jalan cerita. Melihat Pinokio versi Walt Disney serasa melihat Mickey Mouse, hehehe…: pendek, pipi merah, hidung agak bulat, senyum cerah, pake sarung tangan lagi. Jengkrik dimunculkan sebagai Jimini yang lebih mirip manusia daripada serangga. Keluarga Lorenzini kelihatannya tidak begitu suka Pinokio diubah-ubah seperti ini, tetapi protes mereka diacuhkan. Film ini memenangkan Oscar untuk Best Song dan Best Score (tahu dong lagu When You Wish upon A Star, ini dinyanyikan oleh Jimini Jengkerik aka Cliff Edwards)?

Penerjemahan cukup bagus, kekakuan bahasa mungkin karena terjemahan dari buku klasik yang tata bahasanya memang kaku. Jadi, buat yang mau membeli buku Pinokio dalam bahasa Indonesia, bagus kok.

Sebagian informasi tentang pengarang diambil dari situs Pinokio.

Advertisements

15 thoughts on “Pinokio

  1. thanks mina bwt postingannya yg komplit plit tentang pinokio šŸ™‚ saya suka banget film ini, sampe2 uda nonton sampe yg ke 5 kalinya hahaha….

  2. Kayaknya, ini memang salah satu cerita anak-anak yang paling populer yah. Banyak banget sudah dibuat film, drama tentang pinokio. Aku malah ingat tuh, waktu kecil kayaknya ada lagunya lagi kalau gak salah ada liriknya yang kayak gini :
    “Pinokio… pinokio… boneka kayu yang lucu…. (terusannya lupa, hihihihi)”

    Terus aku kemarin ada nonton film Pinokio ini yang dibintangi oleh Roberto Benigni (ini yg main Life is Beautiful kan?). Wah ini mirip banget dengan versi bukunya.

    Aku tuh waktu SD ingat banget deh pernah baca Pinokio ini, gak tahu siapa yang terbitkan, cuma seingatku, kayaknya ceritanya full deh, asli, gak dimodifikasi seperti versi disney gitu.

    Dari kecil ada satu adegan di buku itu yang gak pernah aku lupa, waktu si Pinokio gak mau makan obat, ada rombongan pembawa peti mati itu.

    Terus ada yang waktu si pinokionya kembali ke rumah peri biru, tapi udah gak ada peri birunya. Hiks.. hiks.. waktu kecil aku nangis karena sedihhhh banget…
    Ntah kenapa, kedua adegan ini membekas terus di ingatanku.
    Dan dari dulu, aku kurang suka nonton pinokio yang versi disney, mungkin memang karena udah baca duluan yah?

    Aku sih belum beli yang versi ini, ada juga punyaku sih yang versi terjemahan Inggrisnya (karena punyaku yang “jaman raja-raja” itu udah lenyap ntah kemana, hihihi, terus nyari lagi gak ada, yang ada versi inggris, yah itu pun jadilah, hihihi)

  3. iya, roberto benigni jadi best actor di Life is Beautiful. o, dia pernah jadi Pinokio toh? udah tua dong dia waktu itu?

    mengenai buku Pinokio terjemahan yang sama dengan asli, my mom pernah cerita tentang buku itu. katanya besar dan tebal. kalo dia, moment paling diingat yang siput di tingkat 3 itu šŸ˜€

  4. walt disney emang seneng ngubah jalan cerita biar lebih bisa diterima anak”. Inget cerita Little Mermaid yg di filmnya juga berakhir happy ending (padahal di versi asli Hans Christian Andersen akhirnya malah sad ending). Anyway…nice posting =)

  5. thanks astrid. ho-oh Little Mermaid harusnya jadi buih ya. tapi ujungnya kan happy end? dia akhirnya bisa menebus kesalahannya setelah ratusan tahun, apa gitu ya?

  6. wah, kalau dongeng-dongeng Hans Christian Andersen kan memang banyak yang sedih-sedih gitu akhirnya.
    Ingat gak Mina, yang cerita prajurit timah berkaki satu dengan boneka penari balet, kan akhirnya mereka terbakar di perapian, hiks.. hiks…

  7. iya kobo, itu sedih banget.

    tapi banyak juga yang happy ending. ada juga yang absurd šŸ™‚ my favorite story of Andersen tu yang Putri dan Kacang itu šŸ™‚ aku kalo disuruh bercerita pasti aku cerita yang ini, dan setiap kali dengan twist yang berbeda hehehe…

  8. wehhhh… keren….
    aku sih pengennn banget bisa ngarang cerita kayak gitu, tapi pasti gak bisa šŸ˜¦
    Gak ada ide…
    dasar gak kreatif nih aku, hihihihi
    Jadinya yah sudahlah, aku cukup puas dengan menikmati hasil imaginasi orang saja.. Makanya aku sukaaaa banget baca, dan setelah baca, aku pasti terkagum-kagum, kog bisa yah nih orang ngarang cerita begini, ck ck ck…

  9. aku lupa-lupa inget deh dulu pernah baca pinokio yang tidak sejalan dengan cerita disney trus jadi sebel sendiri gitu sm pinokio dan sampe skrg masih ga suka meskipun lupa kenapa.

    dulu waktu sd juga baca dongeng hc andersen kalo gak happy ending jd kesel sendiri, kok buku anak-anak bikin sedih & takut gitu sih, hehehe… maklum deh, kayaknya deep inside me, aku maunya yg indah-indah aja gitu hahaha…

    skrg mah udah ga se-sensitif itu kok :p (cieeeeeh… pembenaran diri)

  10. ya, HC Andersen juga banyak cerita yang sadis kan?

    Kebetulan, gara-gara ngomongin HCA ini, aku jadinya ingat ama link ke salah satu website yang punya koleksi cerita2 HCA yang lumayan banyak

    http://hca.gilead.org.il/

    Terus iseng deh kemarin baca yang pertama nih, eh, gila, tuh cerita tentang pemantik api ajaib (yang bisa panggil 3 ekor anjing ajaib itu) wah, masa si nenek sihir dipenggal gitu aja ama si serdadu, hanya karena dia gak mau kasi tahu apa kegunaan pemantik api itu, serem juga kalau dipikir-pikir.

    (ups, sori kalau dah lari dari pinokio, hehehehe, abisnya asik sih ngobrolin dongeng2 gini)

  11. Pingback: Abarat: Days of Magic, Nights of War « Book Quickies

  12. Selamat Siang,

    Perkenankan kami dari SerbaBuku.com untuk menawarkan
    kerjasama dalam hal pemasangan serta pertukaran link dan banner.

    Yang ingin kami tanyakan :
    Jika diperbolehkan kami mohon informasi mengenai ukuran banner yang akan kami(SerbaBuku.com) pasang di bookquickies.wordpress.com ?

    Silahkan bertukar link dengan menggunakan link di bawah ini:

    http://serbabuku.com/index.php?option=com_linx&task=add_link&Itemid=35

    Demikian informasi dari kami, terima kasih perhatiannya.

    Salam,

    Diana
    SerbaBuku.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s