After: Luc dan Aku

after.jpgoleh Francis Chalifour
Diterjemahkan dari judul asli After
Penerjemah Alexandra Karina
Gramedia, Jakarta, 2007
ISBN-10: 9792226141, ISBN-13: 9789792226140
181 halaman

Dengan cover bergambar dua anak memakai jas hujan berdiri di bawah guyuran hujan membelakangi pembaca, dan logo TeenLit di kiri bawah sudah menurunkan semangat saya untuk membeli buku tipis ini. No offence to TeenLit, tapi saya rasa saya merasa agak rugi membeli buku ini, mengingat harga Gramedia yang kadang keterlaluan. Apalagi sesudah membaca bagian belakang bukunya, yang bercerita bahwa buku ini tentang kematian ayah tokoh-tokoh di cover depan dan cara mereka menghadapi peristiwa tersebut. Bukan tipe buku yang akan saya baca. Paling tidak suka genre psikologi, apalagi tentang coping mechanism.

Tetapi beberapa bulan lalu saya kopdar (halah, sekota kok kopdar) dengan blogger sekota yang mempunyai nama aneh, manusiasuper parker (bisa diduga dari namanya dia terobsesi pada siapa), yang tidak pernah saya sangka dia itu more than meets the eye. Blognya hanya mencerminkan bahwa dia lucu dan sedikit sinting, dan (tadinya saya sangka) bukan pembaca buku. Suatu hari saya membaca entry blognya yang berjudul Jennings – Si Iseng. Jennings adalah salah satu dari serial yang paling saya sukai, lucu dan berkesan, cerita tentang anak-anak di asrama cowok, dengan Jennings sebagai tokoh utamanya dengan kecerdasan sekaligus kenaifannya. Jadi gak heran waktu si mansup berkoar-koar di blognya bahwa dia mau beli Jennings kalo ada yang punya (saya juga berkoar-koar tentang hal yang sama di forum Buku Kafegaul), saya menawarkan untuk saling pinjem sesudah mengetahui bahwa buku-buku Jennings yang kami punya judul-judulnya berbeda. Pas kopdar, ternyata anak yang kelihatannya imut-imut padahal sebenarnya orangnya amit-amit ini adalah penggila buku, punya oom yang bekerja di Perpustakaan Wilayah (beruntungnya!), dan lulus dari Jurusan FKIP Bahasa Inggris dengan bikin heboh gara-gara skripsinya tentang Harry Potter. Dia membawa banyak buku lain juga. Dia bawa Jennings 2 biji, sebuah buku dari seri STOP (Stefan Wolf), Charlie Si Jenius Dungu (Daniel Keyes), satu buku dari serial Trio Detektif, dan buku After ini.

Saya yang tahu selera baca saya, membiarkan buku ini tergeletak sampai kemudian mansup menghubungi untuk mengembalikan buku-buku saya, yang artinya, saya juga harus mengembalikan buku-bukunya (agak reluctantly sih untuk buku-buku Jennings). Jadi saya menguatkan diri untuk membaca buku After ini hohoho…. *melirik ke atas* oke, lumayan panjang dihabiskan untuk ngerumpi kayak blog saya yang satunya. Jadi saya tidak perlu nulis panjang-panjang tentang bukunya sendiri *grins*

Seperti kata backcover-nya, buku ini diawali dengan kematian ayah si tokoh utama, seorang anak berusia 15 tahun bernama Francis yang tinggal di Kanada (Montreal). Kok sama ya dengan nama sang pengarang, apakah ini autobiografi? Kematian yang memalukan, karena ayahnya yang terkena depresi berat akibat kehilangan pekerjaan telah meninggalkan dunia, isteri, dan 2 puteranya dengan cara gantung diri di loteng. Sepanjang buku kemudian bercerita tentang bagaimana Francis terpuruk dalam kondisi depresi karena tidak bisa menerima kepergian ayahnya, karena merasa bahwa kematian ayahnya adalah karena dirinya, dan karena dirinya tidak pernah benar-benar menyadari betapa dirinya menyayangi ayahnya selama hidupnya (bukankah kita semua begitu? baru menyadari betapa kita kehilangan seseorang sampai dia pergi?). Tiba-tiba serasa seluruh dunia begitu tidak prihatin, seharusnya dunia ini berhenti kan? Kenapa semua orang bisa tertawa dan begitu tidak sensitif (seperti sahabatnya Houston yang secara tidak sengaja membuatnya semakin sedih karena terus-menerus bercerita tentang kegiatannya bersama ayahnya sendiri)?

Semua itu masih dibebani dengan ibunya yang terus-menerus bersedih dan duduk di depan perapian dengan rompi wol ayahnya di genggamannya. Ibunya bekerja lebih keras untuk menghidupi mereka. Francis terus-menerus didera ketakutan kalau-kalau ibunya mengikuti jejak ayahnya. Belum adiknya, Luc, yang masih berusia 5 tahun dan terlalu kecil untuk mengerti apa itu kematian, sehingga selalu berharap bahwa ayahnya akan pulang suatu hari. Banyak hal dalam kehidupan Francis dalam setahun sesudah kematian ayahnya, sebagian membuatnya semakin terpuruk, sampai kemudian dia bangkit kembali. Entah kenapa, menurutku cerita ini diakhiri dengan agak lemah. Bahkan adiknya, Luc, yang kelihatannya lebih kuat daripada Francis sendiri. Tetapi, what do you expect, ini kan teenlit.

Buku ini kabarnya dinominasikan untuk mendapat Governor General’s Literary Awards untuk kategori Children’s Lit, suatu penghargaan literer prestisius di Kanada, pada tahun 2005. Buku ini kalah dari The Crazy Man oleh Pamela Porter.

Kesimpulanku: aku tidak menyesal tidak membeli buku ini.

Ulasan yang mungkin sama, mungkin berbeda bisa dilihat di blog lain:

Advertisements

8 thoughts on “After: Luc dan Aku

  1. min, tambahin lagi tuh, ulasannya si jody juga ada tuh ^.^

    hm, tentang ending? mungkin karena si penulis sih kayaknya terfokus ama emosi si Francis sendiri, lah, penulisnya kan emang spesialis menangani anak-anak yang kehilangan kan? hehehehe

    Si Luc jadi lebih kuat? faktor umur kayaknya, anak-anak yang lebih kecil cenderung lebih cepat lupa.

  2. dah cari-cari di blognya si jody gak ketemu, bo. tar deh dicariin lagi.
    padahal asik juga kalo diceritain proses emosionalnya si Luc, karena aku kok lebih tertarik pada tokoh ini. dia kayaknya malah lebih mampu mensupport kakaknya.

  3. Beberapa klarifikasi πŸ™‚

    1. Buku after itu bukan saya yang beli Min, tapi hadiah dari salah seorang teman, yang dapat diskon gratisan dari book city Banjarbaru, jadi tetap tidak rugi kok.

    2. Sebenarnya secara garis besar cerita dan ide, buku ini cukup bagus. Saya lebih cenderung menyayangkan kualitas penerjemahan yang spertinya asal jadi, sehingga suasana psikologisnya tidak ‘nendang’. Mungkin kecenderungan buku-buku terjemahan Indo seperti itu, jarang saya temui ada terjemahan yang benar-benar bagus.

    3. Sebenarnya, bukan om saya yang kerja di perpusda, tapi om salah seorang selingkuhan, hohoho…

    4. ternyata anak yang kelihatannya imut-imut padahal sebenarnya orangnya amit-amit ini adalah penggila buku

    *tersipu-sipu*

  4. @warmorning:
    agatha christie lebih ke misteri daripada psikologi. aku yang gak suka psikologi murni. kalo psiko-horror, psiko-misteri, oke aja πŸ™‚

    la tahzan gak pernah baca tuh πŸ™‚

  5. Buku ini bagus banget, menurutku. Mulanya juga kupikir ini model teenlit biasa. Ternyata sedikit lebih dalam juga kisahnya.
    Sampai Francis mau pergi jauh-jauh ke The Sailor dg harapan bisa bertemu ayahnya. (T.T)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s