Charlie Si Jenius Dungu

charlie.jpgoleh Daniel Keyes
Diterjemahkan dari judul asli Flowers for Algernon
Penerjemah Isma B Koesalamwardi
Ufuk Press, Jakarta, 2006
ISBN 9791238146
457 halaman

Ini salah satu buku yang dalam keadaan normal tidak akan kubeli, karena temanya yang psikologis dan isinya yang kukira berurai air mata. Tetapi karena buku ini dipinjamkan kepadaku dan harus dikembalikan hari ini kepada pemiliknya, aneh kan kalo dia tanya gimana isinya, dan aku jawab aku belum membacanya? Jadi aku memaksakan diri membaca ini mulai kemarin. Tenggorokanku jadi agak sakit, karena, kalo sudah membaca spoiler-nya di sampul belakang, bisa diduga endingnya tragis. Tetapi aku memang membiasakan diri untuk tidak membaca sampul belakang buku, karena menghilangkan keasikan membaca. Malas kalau sudah tahu ceritanya.

Charlie Gordon, adalah orang dengan mental terbelakang, ber-IQ 68, yang diduga oleh para peneliti pada kasus Charlie disebabkan oleh fenilketonuria. Fenilketonuria adalah kelainan genetik karena defisiensi enzim PAH (fenilalanin hidroksilase) sehingga terjadi penumpukan fenilketon yang menyebabkan gangguan perkembangan otak. Akibatnya terjadi retardasi mental dan kejang-kejang.

Kita dipertemukan dengan Charlie di awal buku saat ia berusia 32 tahun. Charlie tinggal sendiri dan bekerja di pabrik/toko kue Donners, yang dimiliki oleh Pak Donner, teman baik pamannya yang telah meninggal, Paman Herman. Charlie mempunyai seorang ayah (Matt), ibu (Rose) dan adik perempuan (Norma) yang bermental normal. Dalam kondisi kejiwaannya saat ini, dia tidak peduli dengan hubungan kekeluargannya itu, yang penting baginya adalah sekarang. Charlie dipekerjakan Pak Donner sebagai pembersih lantai dan pengantar paket kue. Pak Donner-lah yang membuat Charlie tidak harus masuk ke Panti Warren, panti untuk orang-orang terbelakang seperti Charlie. Teman-temannya di pabrik/toko Donners sering menertawakan kebodohan Charlie dan mempermainkannya, namun Charlie yang tidak menyadari mengapa mereka tertawa malah merasa senang karena dia mempunyai banyak teman. Hidup sangat indah baginya.

Walaupun terbelakang, Charlie mempunyai perbedaan, dia mempunyai keinginan untuk belajar yang sangat besar, dan ia ingin sekali bisa membaca, mungkin akibat trauma masa kecilnya saat ibunya mendorongnya sangat keras untuk belajar karena malu mempunyai anak terbelakang seperti Charlie. Untuk itu, pada malam hari dia bersekolah di Akademi Beekman yang khusus untuk orang terbelakang yang ingin belajar. Keinginannya yang keras untuk belajar menarik perhatian gurunya yang masih muda, Alice Kinnian, yang mengusulkan agar Charlie mencoba mengikuti eksperimen yang sedang dilakukan Professor Nemur, Ketua Jurusan di Fakultas Psikologi Universitas Beekman dan Dokter Strauss, ahli bedah saraf dari Pusat Neuropsikiatri Universitas Beekman. Sebagai subyek penelitian, tepatnya *bergidik*

Nemur dan Strauss telah melakukan penelitian terhadap tikus. Mereka mengajukan teori bahwa fenilketonuria yang terjadi pada Charlie menyebabkan kerusakan gen yang mengakibatkan terbentuknya enzim abnormal yang merusak otaknya. Mereka mengajukan hipotesis bahwa pemberian injeksi zat kimia yang akan berikatan dengan enzim abnormal tersebut akan merubah molekul enzim sehingga akan dihasilkan protein otak yang supernormal, whatever that is. Salah satu tikus percobaan, yang diberi nama Algernon, telah menunjukkan kemampuan paling besar dalam peningkatan kecerdasan, berdasarkan uji menemukan pintu keluar pada labirin. Labirin selalu menakutkan sekaligus membuat aku merasa kagum. Kalau ingat Rumah Sesat di sirkus atau di Dufan, itu semacam labirin pendek, tetapi diperumit dengan cermin. Kuncinya hanyalah mengingat pintu mana yang sudah kita lewati, ditambah catatan bahwa kita jangan percaya apa yang ditunjukkan oleh mata kita, karena mata hanya akan menunjukkan apa yang kita ingin kita lihat. Sentuh dinding-dinding kaca itu dengan jarimu πŸ™‚

Nah, jadi ngelantur. Back to Nemur dan Strauss. Bagian otak yang rusak diangkat dan digantikan dengan bagian otak yang direvitalisasi dengan injeksi zat kimia tadi. Bingung juga darimana dapat jaringan otak baru itu, mungkin jaringan otak si subyek sendiri yang diambil, tapi kalau begitu mestinya operasinya dilakukan dua kali, butuh waktu untuk merevitalisasi jaringan kan? Belum tentu berhasil lagi.

Nah, mereka merasa sudah melakukan penelitian yang diperlukan dan cukup memadai untuk memulainya pada manusia. Aku tidak tahu, kelihatannya proses ini tidak melalui review komisi etik yang ketat, karena terbukti kemudian, Charlie, sesudah dia menjadi ber-IQ 178 segera melihat kesalahan statistik dalam data penelitian mereka pada hewan. Yayaya, spoiler kan? Tapi kan itu sudah tertulis jelas dan gamblang di sampul belakang.

Pendeknya, Charlie dijadikan subyek manusia pertama yang akan menjalani operasi serupa. Karena Charlie dalam kondisi mental terbelakang, maka persetujuan operasi harus dimintakan pada keluarganya, dalam hal ini, Nemur dan Strauss menemukan Norma, yang memberikan persetujuan. Operasi dilakukan. Selama menjadi subyek penelitian, Charlie diminta menulis jurnal, sesuatu yang sulit baginya karena kemampuan baca-tulisnya yang primitif. Jurnal Charlie inilah yang menjadi isi buku. Halaman-halaman awal buku diisi dengan tulisan Charlie yang minus tanda baca kecuali titik. Banyak salah eja (salut untuk penerjemah yang bersusah-payah membuat kesalahan ejaan). Sesudah operasi, Charlie tetap belajar pada Nona Kinnian. Charlie juga mulai mampu melihat kenangan masa lalunya yang baru disadarinya sebenarnya menyakitkan, dan mulai menyadari artinya relationship, baik dengan keluarga maupun orang lain. Kemampuan intelektual Charlie meningkat cepat, namun tidak diikuti dengan peningkatan kemampuan emosionalnya. Charlie yang dulu tetap berada di bawah sadarnya, memperlambat perkembangan emosi dan mempengaruhinya dalam berhubungan dengan orang lain. Kita memperoleh kilasan-kilasan masa lalunya dari jurnal-jurnalnya. Dengan berjalannya waktu, Charlie menulis semakin baik dan kemudian bahkan melampaui kecerdasan Nemur dan Strauss sendiri. Charlie mampu bicara dalam 20 bahasa. Setiap halaman buku yang dibacanya cukup dia lihat sebentar, dan seperti spons otaknya menyerap informasi. Tempat favoritnya adalah perpustakaan.

Perkembangan kecerdasannya membuatnya berubah banyak, membuatnya senang, sekaligus kesepian. Ternyata teman-temannya di pabrik membencinya karena sekarang Charlie menjadi arogan dan tidak sabaran karena teman-temannya tidak lagi mengerti apa yang dikatakannya. Miss Kinnian, orang yang dia sayangi, tidak dianggap Charlie mampu memahaminya lagi setelah dia menjadi begitu cerdas. Bahkan para mahasiswa dan peneliti di Beekman pun dipandangnya rendah, karena ketidakmampuan mereka untuk berdebat dengan dirinya. Hanya Algernon yang dianggapnya mengerti.

Setelah beberapa lama, sesuatu yang aneh terjadi pada Algernon. Tikus itu mulai menunjukkan perilaku emosional dan menunjukkan penurunan kecerdasan. Tidak ada yang mampu menjelaskan hal ini. Pada pertemuan internasional yang membahas keberhasilan Nemur dan Strauss, Charlie menyadari kesalahan para peneliti tersebut, dan melihat bahwa waktu yang mereka berikan untuk melihat perubahan pada Algernon dan Charlie tidak cukup panjang untuk membuktikan bahwa perubahan yang terjadi pada mereka adalah perubahan permanen. Charlie melihat hal ini, dan menyadari bahwa dirinya pasti akan mengalami keadaan serupa seperti Algernon. Berapa lama waktu yang dimilikinya? Seminggu? Sebulan? Setahun? Atau peristiwa yang terjadi pada Algernon hanya aksidental? Charlie tidak mampu membayangkan dirinya kembali ke Charlie yang dulu, bahkan lebih buruk. Selama waktu yang tersisa untuknya, Charlie kemudian melakukan penelitian sendiri. Berhasilkah Charlie menemukan penyebab penurunan kecerdasan Algernon? Berhasilkah Charlie mencegah hal yang sama terjadi padanya? Apa yang terjadi dengan Algernon?

Tapi hal itu sudah terjawab dari judulnya saja: Flowers for Algernon. Aku sedih banget baca bagian-bagian terakhir. That’s why I hate psychological novels.

Naskah asli buku ini ditulis pada tahun 1959, dan memenangkan Hugo Award, penghargaan untuk karya terbaik bergenre sci-fi atau fantasy, pada tahun 1960 untuk Best Short Fiction (waktu itu masih pendek, buku ini adalah pengembangan dari naskah awal yang dimuat berseri di majalah The Magazine of Fantasy & Science Fiction tahun 1959). Bukunya sendiri mendapatkan Nebula Award, juga pernghargaan untuk fiksi sci-fi atau fantasi tapi oleh pemilih yang berbeda dari Hugo Award, pada tahun 1966 untuk Best Novel.

Buku ini telah diadaptasi menjadi film pada tahun 1968 dengan judul Charly, dibintangi oleh Cliff Robertson (itu loh pamannya Peter Parker dalam Spiderman), yang mendapat Oscar untuk Best Actor pada film ini. Cari ah. Adaptasi lain adalah Molly (di sini tokoh utamanya autis) dengan bintang Elizabeth Shue pada tahun 1999, Flowers for Algernon tahun 2000 oleh Matthew Modine, serial drama Jepang dengan bintang Yusuke Santamaria pada tahun 2002, dan serial drama Korea dengan judul Hello God dengan bintang Keon Yoo. Buku ini juga diparodikan dalam salah satu serial The Simpsons.

Jadi bagaimana? Layakkah buku ini dibeli? Dengan sangat menyesal saya katakan, buku ini bagus untuk dimiliki. Cara berceritanya yang sepenuhnya dilihat dari sisi Charlie benar-benar mampu membuat kita merasakan kesedihan, kemarahan, dan frustasi yang dialaminya. Recommended.

Informasi tentang film dan penghargaan diperoleh dari Wikipedia.

Advertisements

18 thoughts on “Charlie Si Jenius Dungu

  1. wah…biasanya aku agak anti buku jenis ini..tapi baca reviewmu kok kayanya jadi tertarik ya? =) btw, dah lama gak mampir kesini, taunya dah pindahan..ok lho tapi…=)

  2. alo mina πŸ™‚ bisa pasang shoutbox kok tp gak di layout luar. bikin page baru trus copy paste html-nya di bagian code.

    aku dulu suka baca buku2 kaya gini tapi kok makin tua makin mudah sedih ya, hihihi… jadinya skrg cari bacaan yg ringan dan baik aja :p

  3. @rey…. jelasin dong gimana caranya hiks hiks…. desperate nih.
    iya aku juga kalo gak dipaksa dipinjemin, gak bakal baca πŸ˜€ mina juga gak tahan baca yang sedih. lebih suka horor thriller fantasy komedi.

  4. sumpah kreeeeen bangetttt bukunya, plus gw salut banget sama penulis nya yaitu daniel keyes..!!! banyak bangettttt novel-novel fiksi dia,, yang gak kalah kereeen,,, dan layak untuk dianalisis dengan teori teori Analisa psikologi

  5. Salam kenal Rizal, mohon maaf kalau banyak salah ketik, walau saya sudah berusaha melebar-lebarkan mata mencari salah ketiknya, belum ketemu. mohon agar diberi saran kepada saya untuk perbaikannya, di bagian mana saja salah ketiknya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s