One Book Per Week

book_zoomed_out.jpg Judul di atas bisa dibilang judul yang jelek untuk sebuah tulisan. Kenapa? Karena siapa pun yang membacanya sudah langsung tahu posting yang ini isinya tentang apa, dan langsung skip ke blog yang lain. Apalagi kalau kamu memang kenal saya di dunia nyata atau telah membaca blog saya sejak blog ini berdiri, maka kamu tahu betul bahwa saya bisa berbicara tentang satu hal sepele sampai berjam-jam dan menulis tentang sesuatu buku sampai berparagraf-paragraf, melalar ke berbagai arah yang tidak berkaitan. But, yeah, that’s me, mau diapain lagi. Harap bersabar dan silakan meneruskan blogwalking.

Sebuah blog buku seyogyanya (halah) berisi review buku. Tetapi sesuai dengan karakteristik saya dalam menulis, begitu juga karakteristik saya saat membaca yang berpanjang-panjang dan cepat teralih (mungkin saya mempunyai attention span yang sangat pendek). Apalagi kalau yang dibaca itu sesuatu di internet, maka setiap link menarik di dalam sebuah artikel pasti akan saya baca. Membuat tagihan internet menjadi tidak masuk akal. Akal dompet saya, maksudnya. Apakah ini menunjukkan saya perfeksionis atau hanya agak-agak attention-deficit, gak tahu saya. Nah, gara-gara satu buku bisa baru selesai dalam 3 bulan, karena bacanya berulang-ulang di satu halaman -(bisa karena pelupa (menurut anna seperti itu) atau memang agak lamban berpikir (menurut mansup seperti itu)- maka blog ini jadi jarang di-update.

Bukankah bikin iri bagi seorang blogger buku melihat para anggota KUtuBUkuGILa (Jody, Kobo, Q, Antie, Maria, Ferina, Sitorus, Pengasap Kubur, Perca, Ida, Sherlock, Tanzil, Yuli), Rey, Ally, femmy, Sisil, Natnat, dengan update-an buku mereka yang menyebalkan, kadang bisa update hampir 2 hari sekali? Memang sih sebagian besar dari mereka pekerjaannya berkaitan dengan buku, tetapi sebagian lagi mempunyai pekerjaan lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan buku. Bagaimana ya mereka bisa meluangkan waktu? Bukankah hati sebal melihat my own cousin Nida yang bisa membaca 1 buku sehari? Ya, walaupun itu karena dia masih status pengangguran sih hohoho. Na, kalo adik saya memang jago membaca secara scanning. Dia tidak punya hari libur, dan akhir minggu dia tetap bekerja di project-projectnya yang tidak berkeputusan. Waktu membacanya menjadi sangat terbatas, dan buku-buku yang saya beli dia lahap dengan sekali duduk. Entah bagaimana caranya. Waktu ditanya bagaimana, dia hanya menatap saya, lalu berlalu. Ah, well, dia memang tidak komunikatif dan menganggap hal-hal sepele seperti itu mestinya bisa dipecahkan sendiri.

Mari kita lihat betapa tidak produktifnya saya, diiringi dengan betapa konsumtifnya saya. Ini bulan apa? *ngecek kalender* Oke, sudah mau akhir Agustus. Buku apa saja yang sudah saya beli bulan ini?

  1. Death in Vienna oleh Frank Tallis
  2. Vienna Blood oleh Frank Tallis
  3. Anna Karenina oleh Leo Tolstoy
  4. WOT 9: Winter’s Heart oleh Robert Jordan (oya, ini dapet gratis dari Bookmooch)
  5. WOT 10: Crossroads of Twilight oleh Robert Jordan (ini juga dari Bookmooch)
  6. Dark Tower IV: Wizard and Glass oleh Stephen King
  7. IPDN Undercover oleh Inu Kencana
  8. Lagu Wajib untuk anak SD dan lanjutan
  9. Lagu rakyat untuk anak SD dan lanjutan
  10. Bartimaeus 1: The Amulet of Samarkand oleh Jonathan Stroud
  11. Bartimaeus 2: The Golem’s Eye oleh Jonathan Stroud
  12. Kartun Riwayat Peradaban Modern I
  13. Gajah Mada 3 oleh Langit Kresna Hariadi
  14. Gajah Mada 4 oleh Langit Kresna Hariadi
  15. Gajah Mada 5 oleh Langit Kresna Hariadi
  16. Abarat II oleh Clive Barker

Dan buku apa saja yang sudah dan sedang saya baca bulan ini?

  1. After: Luc dan Aku
  2. Charlie, Si Jenius Dungu
  3. Small Gods by Terry Pratchett. Saya akan segera me-review tentang ini. Kenapa ya saya sangat suka dengan turtle? Tidak dalam makna bahwa saya akan dengan senang hati memelihara seekor, tidak, tetapi dalam konsep. Ah, nanti deh, dibahas.

Menyedihkan. 16 : 3. Rak buku yang overloaded. Padahal rak buku itu saya khusus bikin biar pas satu sisi dinding kamar dan hampir mencapai langit-langit, dan buku bisa disusun 2 ke belakang. My mom bilang, dengan kecepatan beli buku seperti sekarang dan kemampuan membaca saya yang pathetic, saya akan mewariskan banyak buku yang masih terbungkus plastik pada para ahli waris (melirik sebal pada teman-teman yang sudah mengacung-acungkan tangan dari tadi untuk menjadi ahli waris). Ini belum dihitung koleksi ebooks saya lo. Saya mendonlot ebooks in daily basis. Dengan harapan bahwa suatu hari EBooks Reader akan masuk Indonesia dengan harga murah kayak kacang goreng.

Bagaimana sih tips membaca cepat tetapi efektif ini? Saya tahu cara membaca efektif untuk teks ilmiah. Been done that since I was in college, karena saya orangnya penidur, jadi biasanya waktu membaca buat ujian sedikit sekali. Tetapi membaca fiksi? Mosok bisa di-skip? Saya selalu ketakutan kalau-kalau I miss one small detail yang penting. Mungkin karena saya memulai membaca buku dari buku detektif (Agatha Christie, Pasukan Mau Tahu-nya Blyton), Trio Detektif, tebak-tebakan kasus (Wolfgang Ecke), dan kemudian buku klasik dengan tata bahasa njelimet yang membuatku harus baca berulang-ulang biar mengerti (aku membaca dan menerjemahkan -untuk kalangan sendiri- Jane Eyre-nya Charlotte Bronte versi unabridged sejak kelas 3 SMP). Francis Bacon bilang: “Some books are to be tasted, others to be swallowed, and some few to be chewed and digested.” Saya kok tidak bisa seperti ini ya.

Kemaren dapat artikel menarik yang berjudul “How to Read 70+ Books in A Year” oleh Scott H Young. Dia memberikan step-step berikut ini (untuk lebih lengkap silakan loncat ke blognya):

  1. Learn to Speed Read. Ini mudah, untuk teks ilmiah, untuk fiksi? Apalagi kalau itu thriller atau misteri.
  2. Always Have A Book. Ini sudah selalu saya lakukan. Saya selalu membaca buku sambil bersila kalau nunggu masuk bioskop, yang rupanya merupakan pemandangan aneh, karena orang akan lewat sambil menatap saya lalu tersenyum-senyum (is it me who is funny or the title of my book?). Saya juga tidak mungkin pergi travelling tanpa buku, kok serasa mati gaya tanpa buku. Serasa bengong, gitu. Tetapi adanya buku ini menjadi tidak bermakna bila kita mendapatkan teman travelling yang terlalu talkative. Susah sekali membaca sambil berbicara, ya, tidak sopan juga sih. Apalagi saya ini rupanya memang selalu menarik bagi orang-orang tidak dikenal untuk diajak mengobrol. Jarang sekali saya duduk di bandara tanpa kemudian diajak ngobrol (sebenarnya sih, dia yang ngobrol, saya cuma mengangguk-angguk gak ngerti) oleh seseorang.
  3. One Book At A Time. Ini a difficult thing for me. Seperti saya bilang, short attention span. Ada buku bagus, pengen baca yang itu padahal buku yang dipegang juga belum selesai. Ini harus diperbaiki.
  4. Fill Gap with Reading. Orang Indonesia gak terbiasa seperti ini ya. Ada gak yang duduk dalam bis/pesawat/taksi sambil membaca? Rata-rata bilang kepala jadi pusing. Orang-orang di sekitar saya saja melihat saya membaca buku, akan bilang: wah belajar terus. Rupanya buku identik dengan pelajaran ya.
  5. Cut the Television and Web-surfing. Hohoho. Cut the TV? Easy, man. TV di tempat saya penerimaan sinyalnya kadang jelek (malas pasang antena di atap), padahal ada pilihan layanan TV kabel yang murah-meriah, kalo mau. Tapi saya, my mom, and my sis sepakat bahwa dengan siaran TV nasional yang sedikit aja kita jarang nonton, apalagi TV kabel? Nah bagaimana dengan cut the web-surfing. Aaaaargh! Ini tidak bisa. I can’t live without it.
  6. Keep a To-Read List. Seperti punyanya Rey. Tetapi apakah ini tidak menambah frustasi saya? Ah, tetapi lebih baik dicoba saja.

Oke, ayo kita lihat. Nomor 1, sulit, tapi akan dicoba, checked. Nomor 2, checked. Nomor 3, I will try, checked. Nomor 4, checked. Nomor 5, TV, checked. Web-surfing, sorry, no. Nomor 6. Checked. I will made one. Saya akan pilih satu dari buku baru beli, satu dari buku klasik (I am a collector of classics due to their cheap prices), dua dari buku yang sudah lama di lemari. One book per week. Jadi 4 books a month. 60 books a year. Hopefully. Tidak ada step yang menyuruh berhenti membeli buku, kan ya? Menatap ke atas penuh harap.

Pics diambil dari blognya Anita Bath.

Advertisements

17 thoughts on “One Book Per Week

  1. hahahaha… membaca jgn jadi beban non šŸ™‚ dinikmati. masa bodoh org mau bilang apa, kalo lg kepingin baca ya baca, kalo tidak ya gpp dong.

    reading list daku fungsi-nya reminder kalo buku2 itu belom dibaca, buat memudahkan pencarian di kala butuh bacaan, buat rem sblm memutuskan beli buku baru, buat teaser diri sebaiknya mereka diapakan: memang akan dibaca? disimpan? atau sebaiknya dilepas (jual/hibah)?

    ya gitu dewwwwh huehehe… intinya: dinikmati aja, biarpun sekadar mengelus-elus memandang sampulnya dulu.

  2. problemnya rey, tanpa dipaksa begitu, aku cenderung tenggelam dengan kesenangan aneh membeli buku dan menatapi rak buku tanpa membacanya. hampir obsesif-kompulsif. aku gak mau dong jadi bibiliomania tulen šŸ˜€

  3. ho oh, mina, nyantai aja…

    jangan dijadikan target, malah bikin stress, hahahahaha

    Aku sih gak pake sistem scan kog bacanya. Tergantung jenis buku, kalo yang ringan-ringan yah bisa emang 3-4 buku sehari (dari pagi ampe malam maksudnya, hahahaha)

    Tapi kalo lagi kerjaan menumpuk, yah seminggu juga blon tentu kelar 1. Trus jadinya yah pake trik. Kalo lagi ketimbun kerjaan, bacanya yang kriuk-kriuk aja, komik gitu maksudnya, hue he he he, trus buku-buku anak-anak yang ringan dan tipis-tipis (kalo perlu buku bergambar alias picture book yang banyakan gambar dari tulisan hi hi hi hi), jadi abisnya kesannya buanyaaaakkk gitu, hi hih i hi hi

  4. hampir semua penyuka ‘sesuatu’ pasti jd obsesif kompulsif :p (been there done that: dari perangko, kertas surat, miki mos, lumba-lumba, pencil lucu, sepatu, kartu telepon, jam tangan, kebiasaan bersih-bersih dan… buku!) it’s fine kok. dulu malah aku bisa gak makan yg penting punya buku dulu hehehe… asal kita gak terlalu make a big deal out of it, there’ll be a turning point someday somehow šŸ™‚

  5. @flona aka nasiuduk (nyaem nyaem): aduh kok dibilang banyak sih, cuma 3 itu aja kok. ini aja seminggu gak bisa baca buku sama sekali *sigh*

    @rey: tapi aku senang lo rey, berada dalam keobsesif-kompulsifan ini šŸ™‚ daripada obsesif-kompulsif pada cewek kaya si mansup di atas ini? -bergidik-

    @mansup: kamu bilang kok pernah sekali, which I don’t mind sih. geli aja aku dibilang lelet. anyway, 1 cewek satu minggu? cewek yang sama kan? -siap2 ngasi tau si bawel bila jawabannya the opposite-

  6. hey…setuju banget kata si rey…jangan jadiin beban, tapi nikmatin aja..dimulai dari beli buku yg bener” menarik hati..jadi nggak terjebak perasaan “terpaksa” membaca..misal bukunya seru kan pasti bacanya jadi gak bisa berenti..jangan pernah beli buku hanya karna org lain punya, atau lagi ngetrend, atau pengen gaya…kalo aku sebenernya lebih seneng beli satu demi satu min, biar beres dulu dan baru baca yg baru…(kecuali lagi ada bazaar murah, hehe)..happy reading yah!

  7. Mina ga sendiri koq. ^_^

    Ally juga kadang lambat banget bacanya. Dan kadang sering bermasalah kalau dah mau nulis review. kadang bingung mau mulai dari mana.

    Soal daftar buku yang blom dibaca yang semakin menumpuk, ally pikir semua yang gila ma buku, pastyi mengalami hal yang sama. sampai sekarang lebih dari 20 buku yang aku blom selesaikan sampai sekaranang. padahal belinya waduh..dah lama

  8. Buat para buku mania, boleh dong kita saling kenalan, sekalian memperluas jaringan para pecinta buku. Kita bisa buat link-nya. Di blog saya, siapapun boleh menuliskan resensi/ sinopsis buku yang mereka baca. Baru boleh, lama juga boleh. Ini kan bukan berita koran yang habis dalam sehari…

  9. minaa…. bagaimanapun dirikulah juara kutu buku termalas di dunia. jangan bersedih…. kalo mina satu buku seminggu, aku satu buku bisa 1-2 bulan (itu sambil kerja, hahaha…) sementara pembelian? yah, rata2 sebulan 1-4 buku, tapi kan aku sering mendapatkan buntelan japrem. jadi yaahh… betul2 dah… ayo, ceterkan cambuknya!

  10. sama banget,,banyak banget buku yang belum kebaca di rak buku. Malahan buku yang dibeli tahun kemaren baru sempet aku baca kemaren. Tapi kalau jalan2 ke toko buku gatel banget kalo ga beli, rasanya gimanaaa gitu..Apalagi kalau yang diskonan, ga nahan deh..One Book A Week,,hmm, good idea..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s