A Death in Vienna

death.jpgoleh Frank Tallis
Diterjemahkan dari judul asli Mortal Mischief
Penerjemah Esti A Budihabsari
Penerbit Qanita, Bandung, 2007
Edisi asli diterbitkan pertama kali pada tahun 2006
ISBN 979 3269 60 x
574 halaman

Kali ini sepertinya review-ku akan pendek. Sesuatu yang bisa dibilang tidak mungkin kalau kalian biasa membaca review buku di sini. Tetapi, bagaimana lagi cara menulis review untuk crime stories tanpa menunjukkan seluruh plot?

Buku ini adalah buku pertama dari serial The Liebermann Papers, yang menceritakan kiprah seorang psikiater bernama Maxim Liebermann membantu temannya dari kepolisian Wina, Inspektur Oskar Rheinhardt, dalam memecahkan kasus kriminal.

Seorang medium muda berusia akhir dua puluhan, Charlotte Löwenstein, ditemukan tergeletak artistik di sofa ruang duduknya di lantai atas, dengan luka tembakan di dada. Pintu ruang duduk terkunci dari dalam. Nampak sebuah surat di atas meja, ditulis dengan tulisan tangan Charlotte, menyatakan seolah-olah itu merupakan surat selamat tinggal sebelum bunuh diri. Namun, tidak ditemukan senjata yang digunakan, dan hasil otopsi bahkan menunjukkan bahwa, walau ada luka tembus sampai ke jantung dan tidak ada luka tembus keluar, tidak ditemukan adanya peluru dalam dadanya. Sebuah kejahatan yang direncanakan dengan baik, lengkap dengan ilusi seolah-olah Charlotte dibunuh oleh kekuatan supranatural. Sebagai seorang polisi dan psikiater berpikiran rasional, Oskar dan Max tidak percaya dengan ilusi.

Tersangka utama tentu saja adalah teman-teman di dalam lingkaran pertemuan supranatural yang selalu diadakan Charlotte setiap malam Jumat di rumahnya: Karl Uberhorst, ahli kunci berbadan kecil yang menjadi teman curhat Charlotte dan kelihatan paling merana karena ditinggal mati Charlotte. Natalie Heck, gadis muda dan seorang penjahit yang kesepian, yang sangat mengagumi kecantikan dan keanggunan Charlotte. Otto Braun, pria muda tampan ahli ilusi. Heinrich Hölderlin dan istrinya Juno, suami istri kaya-raya, Heinrich adalah seorang bankir dan dekat dengan Walikota Wina. Hans Bruckmüller, pengusaha dan pemilik perusahaan pembuat alat bedah. Count Zoltán Záborszky, seorang bangsawan miskin dari Hungaria. Siapa di antara mereka yang paling mempunyai alasan untuk membunuh Charlotte? Analisis yang diajukan oleh Max terhadap barang-barang bukti, serta sikap dan perilaku tersangka menurutku menarik juga, cukup mengesankan. Anehnya, kenapa ya pembantu di rumah Charlotte tidak dicurigai?

Sementara itu, Max sendiri berkutat dengan perbedaan pendapat tentang pendekatan terapeutik di rumah sakit tempatnya bekerja. Professor Wolfgang Gruner, atasannya, memperkenalkan elektroterapi untuk menyembuhkan histeria, yang menurutnya sepenuhnya adalah karena kelemahan syaraf. Sementara Max, penganut teori Freud, beranggapan bahwa semua histeria, yang umumnya memang bermanifestasi pada gangguan fisik/somatik, bisa dijelaskan secara psikologis (yang menurut Freud akibat trauma seksual di masa lalu), sehingga terapinya juga harus dengan pendekatan psikologis. Max menggunakan hipnosis untuk menggali sumber pemicu histeria, dan membantu pasien untuk mengatasinya dengan mendorong pasien untuk menghadapi, dan bukan menghindari, sumber masalah. Hal ini dilakukannya pada pasiennya, Amelia Lydgate, gadis muda yang cerdas, sangat tertarik pada penelitian Landsteiner tentang klasifikasi darah, dan mempunyai mimpi untuk belajar ilmu kedokteran, namun karena histeria yang dideritanya, tangan kanannya lumpuh.

Selain itu, ada juga side-story tentang hubungan Max dan Clara, tunangannya. Cerita ini mengambil setting waktu di sekitar masa Sigmund Freud mengeluarkan bukunya Interpretation of Dreams, sekitar tahun 1902. Ah membicarakan Interpretation of Dreams selalu mengingatkan saya kepada seorang mahasiswa smart, cowok, yang saya temui dulu di Asrama Mahasiswa Lambung Mangkurat (lebih terkenal dengan istilah Lamang) di Jalan AM Sangaji Jogjakarta. Waktu itu saya sudah bekerja, dan iseng-iseng berlibur di Jogja dan memilih untuk menginap di asrama itu (saya sangat mencintai asrama yang gedungnya dari jaman baheula ini), karena ada teman saya di sana. Mahasiswa yang satu ini dipanggil Professor oleh teman-temannya karena kesukaannya pada filsafat (menurutku rata-rata anak-anak asrama cenderung suka berfilosofi, mungkin akibat malam demi malam bergadang sambil merokok dan minum kopi, kehabisan bahan pembicaraan, sehingga akhirnya sampai ke filsafat) dan kegilaannya pada buku. Dia tidak berbicara dengan saya karena perempuan tidak menarik hatinya, perempuan kan gak bisa diajak ngobrol, begitu pikirnya mungkin. Sampai suatu hari dia berbicara tentang Machiavelli di meja makan saat sarapan (bayangkan pagi-pagi sudah ngomongin Machiavelli), dan saya jadi teringat buku oom saya di rumah, terus saya bergumam sendiri, “oh Il principe“, dan detik itu juga dia langsung menganggap saya teman ngobrol yang asyik hohohoh… tertipu dia. Saya kan mana mengerti filsafat. Tapi para pencinta filsafat itu kan lebih suka mendengar suara mereka sendiri, jadi saya tak perlu buka mulut banyak-banyak hehehehe… Nah, dialah yang memperkenalkan Interpretation of Dreams pada saya, versi ebooks, tentu saja.

Doh, kebanyakan ngelantur. Sampai mana tadi? Balik ke Max dan Clara. Cerita ini kan settingnya jaman batu yah, jadi hubungan pacaran itu sangat-sangat formal, hohoho… apa ya maksud saya. Sepanjang buku, saya merasa bahwa Max tidak yakin dengan hubungannya dengan Clara, saya bahkan curiga dia sebenarnya tertarik, sexually, pada Miss Lydgate. Bukan hal yang aneh sebenarnya psikiater tertarik pada pasiennya, bahkan dikatakan bahwa agar pasien terbuka pada sang psikiater, harus tercipta hubungan erat antara psikiater-pasien, sehingga pasien percaya padanya, dan sudah dekat banget kan antara sepenuhnya percaya dengan cinta? Dan psikiater cowok mana yang gak merasa senang dan rada-rada jatuh cinta pada pasien ceweknya yang cantik dan mengaguminya karena kehebatannya bisa menyembuhkan sang pasien dari penderitaan psikologis? Weh, kalimatku hohohoh…. Makan apa ya aku sahur tadi. Anyway, ketertarikan pada Miss Lydgate juga mungkin karena kecerdasannya, yang tentu jauh dibandingkan Clara yang suka bergosip tidak penting. Kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutannya di Buku 2 (Vienna Blood), apakah Miss Lydgate masih ada? Kalau tidak ada, aku kecewa, sumpah! Dan wahai kalian yang sudah baca buku 2, jangan dispoiler di komen ya -menatap tajam kepada terpais-

Sepanjang buku kita melihat kehebatan analisis Max, tetapi pada akhirnya yang memberikan kejelasan atas semua ilusi dalam kamar duduk Charlotte adalah Miss Lydgate. Menyebalkan sekali. Miss Lydgate ini kok rasanya terlalu smart, semacam deus ex machina. Seolah-oleh side-story tentang Miss Lydgate dimasukkan di sini hanya untuk dijadikan problem solver di akhir.

Buku ini penuh dengan gambaran latar belakang kota Wina. Entah deskripsi dari pengarangnya memang tidak enak atau ada sesuatu yang lost in translation, saya kurang menikmati. Padahal saya paling suka deskripsi kota (dan makanan) asal tidak mengganggu kelancaran cerita (tidak seperti deskripsi kota dalam bukunya FirBas yang lebih banyak daripada ceritanya sendiri). Juga terlihat sekali bahwa Tallis menyukai musik klasik, karena Max digambarkan sebagai pianis klasik yang handal dan Oskar adalah penyanyi bersuara bariton. Bahkan Mathias sang dokter forensik juga menyenandungkan musik klasik. Sebagian besar tokoh diceritakan menggemari pertunjukan musik klasik. Atau mungkin semua orang Wina memang begitu.

Sang pengarang, Frank Tallis, adalah seorang psikolog klinis, dan banyak menulis tentang gangguan obsesif-kompulsif, wah, saya paling tertarik dengan gangguan ini waktu belajar Psikiatri, karena sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Buku ini dinominasikan untuk mendapatkan Ellis Peters Historical Dagger Award, penghargaan untuk buku kriminal historis yang disponsori oleh Ellis Peters. Buku keduanya dalam jajaran Liebermann Papers berjudul Vienna Blood, dan buku ketiganya yang berjudul Fatal Lies akan terbit tahun 2008. Qanita cukup tangkas menangkap bukunya Tallis, baru terbit sudah diterjemahkan.

Omong-omong, kenapa ya penerjemahnya menggunakan judul A Death in Vienna? Waktu saya browsing mencari tentang A Death in Vienna di halamannya Frank Tallis, gak ketemu, o, ternyata itu bukan judul aslinya. Tapi terbitan lain di beberapa negara juga menggunakan judul A Death in Vienna. Mungkin memang ada 2 versi judul. Penerjemahan buku kesatu ini terus terang sangat tidak enak. Agak kaku, dan campur-campur antara bahasa formal dan bahasa preman. Dugaan saya, naskah aslinya pasti berbahasa formal, melihat gaya berceritanya.

Hmmm, melirik ke atas, ternyata tetep aja jadinya panjang ya.

Kesimpulan: asik, tapi tidak terlalu mengesankan. Mungkin saya kebanyakan baca buku detektif, sehingga berharap sesuatu yang berbeda dari yang biasa.

Ternyata banyak juga yang me-review buku ini (mungkin karena Qanita menawarkan hadiah bagi pereviewnya hohoho…). Bisa dilihat di:

Advertisements

11 thoughts on “A Death in Vienna

  1. Ally dah selesai bacanya. tapi mogok reviewnya. Sampai sekarang masih blom selesai. hehehehe…

    Tapi buku yang stau ini emang seru. Jadi pengen baca buku berikutnya. Tapi blom ada di rak bukuku. hiks

  2. hehehe, si miss lydgate akan lebih terasa peranannya di Vienna Blood, Mina, huhuehehehehehehe

    nah, kalo ini, mau deh, aku mau jadi Miss Lydgate, tapi tetap gak mau jadi Leony ato Dhea Ananda….

  3. @ally:
    minta aja sama penerjemahnya aslly, hohohoh…

    @kobo:
    sudah kuduga sudah kuduga. habis miss lydgate diulas panjang lebar gitu. doh… kobo jadi eza yayang aja ;p

  4. Hai Mina, thanks udah mampir di blog-ku. Mmm, soal EFT aku sedang bikin ebook-nya. Semacam psikoterapi juga. Bedanya bisa dipelajari dgn mudah oleh siapa saja dan bebas rasa sakit dan kemudian bisa dilakukan untuk orang lain. Kalo psikoanalisanya Freud, pengalaman dikorek2 jd menyakitkan dan prosesnya lama kadang perlu bertahun2.

  5. bukan mina, serbet buat ngelap iler, karena di situ akan banyak disebutkan tentang makanan yang yummy2…

    tapi aku ndak mau jadi agnes monica… kalo duet sama kobo mendingan jadi TATU aja, hahahahaha….

  6. mengapa terjadi terpai juga di sini?
    sungguh aneh…
    masa milis, ym, MP, udah sebanyak itu, masih gak cukup juga????

    benar-benar kebangetan ini para pasien, ck ck ck ……

    mesti diapain lagi gitu, aduh…pusing deh terpais

    *padahal diam-diam tertawa bangga*

  7. terpai yang terlalu berhasil, serta bu manajer yang terlalu aktif, terbukti para pasien semakin betah di sel RSJ-nya masing-masing, yang dilengkapi dengan internet hotspot hehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s