Bone 1: Keluar dari Boneville

bone-1.jpgoleh Jeff Smith
Diterjemahkan dari judul asli Bone Volume One: Out from Boneville
Diterjemahkan oleh Ricky Sidharta
Penerbit Pionir Jaya, Bandung, 2006
Dipublikasikan pertama kali tahun 1991
ISBN 979 542 220 0
142 halaman

Sejenak beristirahat membaca buku yang isinya teks semua, kita pindah ke komik bergenre fantasi ini sebentar ya. Sudah lama membeli ini, waktu saya ke Bandung pertengahan tahun lalu, saat ikut berlibur bersama anak-anak redaksi jurnal. Pantas saja saya tidak pernah menemukan ini di Gramedia Banjarmasin ataupun Jogjakarta, karena ternyata komik ini diterjemahkan oleh penerbit di Bandung. Saya membeli dua seri buku ini di Gramedia Bandung (woww, ada satu lantai sendiri yang isinya sebagian besar komik!). Pertama kali mendengar tentang Bone kalau tidak salah di situs sang pembuat komik penderita krisis percaya diri kronis yang kerja sampingannya dokter hewan ini, hohohoho…. Review bagus dari dokter tito tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Oya, wajahnya yang diorek-orek spidol merah di foto maupun komik strip di situsnya itu hanya untuk menutupi wajahnya yang terlalu imut, sehingga suka disangka orang, termasuk saya, masih anak SMP (itu pujian atau memandang rendah ya, to? -yang muda yang tidak dipercaya-)

Bone. Kita langsung menyangka dia tulang, bukan? Tapi bukaaaaan, tampilan luarnya bukan seperti skeleton kayak sang El-Maut, tapi ya persis seperti sebiji tulang: off-white, dengan bentuk kepala dan hidung yang mengingatkan kita pada bentuk tulang yang dibawa-bawa anjing di komik-komik. Komiknya hitam-putih, jadi persangkaan saya bahwa warnanya off-white hanya dari covernya. Komik aslinya sebenarnya hitam-putih, tetapi pada tahun 2005, Scholastic, penerbit buku anak terbesar di dunia (juga penerbit buku Harry Potter di Amerika), menawarkan untuk mempublikasikannya dalam bentuk komik berwarna (sebelumnya komik ini self-published, cool, ya?). Indah sekali. Begitu melihat tokoh utama, Fone Bone, langsung membuat kita suka pada tokoh yang buku favoritnya Moby Dick ini. Wajah dan sorot matanya yang baik hati dan kelihatan agak lugu bikin gemes. Cara dia mengelap dahinya yang kepanasan dengan sapu tangannya saja terlihat imut. Dan tahukah kalian dia juga romantis? -injek-injek Thorn-

Tanpa ba-bi-bu, pada halaman pertama, kita langsung dipertemukan dengan 3 tokoh dalam buku ini: Fone Bone; kemudian sepupunya yang kaya-raya (dulunya), mata duitan, tidak bermoral, dan egois Phoncible P Bone (mengingatkan pada Gober Bebek); dan sepupunya satu lagi Smiley Bone yang selalu merokok, ngomongnya sarkastis dan memandang hidup ini dengan santai. Mereka tahu-tahu sudah berada di gurun yang gersang di luar Boneville, karena Phoncible (Phoney) Bone diusir dari Boneville gara-gara dengan culasnya membangun panti asuhan di atas tempat pembuangan limbah berbahaya demi keuntungan pribadi. Fone Bone hanya menemani sepupunya, sedangkan Smiley, sebagai orang yang happy-go-lucky, hanya ikut saja jalan-jalan karena diajak Fone Bone. Dalam perjalanan, mereka bertemu segerombolan besar belalang yang membuat mereka terpisah-pisah. Nah, dari sini kita mengikuti perjalanan Fone Bone, yang secara tidak sengaja masuk ke lembah yang tak bernama, biasa disebut The Valley.

Ada banyak makhluk imajinatif yang ditemui Bone dalam perjalanannya mencari Phoney dan Smiley.

  • Ada Naga, yang berpenampilan sama sekali tidak mirip naga: tanpa duri, tidak punya sayap, wajah lebih mirip kuda, alis menonjol menunjukkan sinisme, telinga panjang berbentuk seperti tanduk yang melengkung ke depan dengan ujung berbulu seperti ujungnya topi Santa Claus, tubuh besar seperti dinosaurus, janggut di dagu, gerakan lambat dan santai, dan mulut yang menjepit entah apa, mungkin ranting, mungkin juga rokok hohohoho…. Satu-satunya persamaannya dengan naga adalah dia menyemburkan api. Kedatangannya ditandai oleh bau belerang. Naga ini dianggap makhluk fantasi, bahkan oleh tokoh-tokoh di The Valley. Naga ini kelihatannya terobsesi mengiringi dan melindungi Fone Bone. Dan ngomong-ngomong, dia berwarna merah.
  • Ted, serangga (mungkin belalang?) yang berpenampilan lebih mirip daun. Minimalis banget 😀 Ted kelihatannya bersahabat dengan sang naga. Kakak Ted sama sekali tidak mirip dengan Ted (tapi itu mungkin karena Ted masih kecil), kakaknya kadang berbadan besar seperti monster, berkaki kecil runcing, berantena dua, tetapi pada saat yang lain lebih mirip belalang sembah yang cungkring dan kurus. Mungkin kalau dia marah, dia menggelembung, hmmm, kedengarannya seperti ikan buntal.
  • Sepasang monster tikus, saya sebut sepasang karena saya yakin betul salah satunya adalah perempuan (padahal namanya Komrad –ups, edited by my mom, dia bukan memanggil nama pasangannya dengan Komrad, tapi dia memanggilnya kamerad, from comrade, a lost in translation). No, bukan karena melihat dadanya or something (ya, mereka naked), tetapi karena salah satu dari pasangan itu marah-marah disebut gendut, cara berbaringnya yang seksi (ya ampun aku ini kenapa), dan, tidak seperti pasangannya, lebih suka makan quiche daripada panggangan ataupun rebusan. Pasangan ini juga terobsesi ingin menangkap (dan memakan) Fone Bone, walau sebenarnya mereka sedang mencari Bone “tertentu” yang ada bintang di dadanya. Omong-omong tentang monster tikus, mereka tidak kelihatan seperti tikus. Mata bulat kosong (menunjukkan kebegoan mereka), tanduk di kepala, bulu panjang di sekujur tubuh kayak gorila, ya cara duduk mereka mengingatkan pada gorila, cakar penuh kuku khas monster, gigi-gigi besar dan tajam, mulut yang besar, walau dalam kebanyakan situasi mulut mereka tidak kelihatan, tertutup bulu panjang. Oya, juga halitosis akut, karena mereka juga makan bangkai binatang. Pasangan ini kelihatannya selalu ada di “plengkongan” tak terduga, hohoho…
  • Keluarga Possum, yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 anak opossum. Ayah yang kelihatan rendah hati, ibu yang keibuan sekali (ya ya ya saya tahu perbendaharaan kata saya terbatas hiks), dan anak-anak yang bandel penggemar Fone Bone yang kelihatannya akan berperan banyak di buku-buku selanjutnya.
  • Thorn. Kalau kita mendengar nama ini, kita langsung menyangka dia cowok keren dan tinggi dan atletis. Tidak, Thorn ini adalah makhluk perempuan terseksi di Bone 1. Yah, mau gimana lagi, dialah satu-satunya perempuan manusia yang ada di sana selain Nenek Ben. Tentu saja dia seksi. Mandi di sungai tanpa baju, kadang ditampilkan bangun tidur dengan dada kelihatan sebagian, huh. Tapi jangan kira dia cantik, tidak. Menurut saya tidak, tapi sekali lagi, sebagai satu-satunya perempuan manusia selain Nenek Ben, tentu saja dia kelihatan cantik sendiri di mata Fone Bone. Menurut Ted, Thorn tahu segalanya tentang dunia ini, tetapi aku meragukannya. Kelihatannya dia agak bodoh.
  • Nenek Ben, nenek tua dengan kekuatan seperti Hercules. Wajah neneknya Thorn ini yang selalu tersenyum dengan mata tertutup itu menurutku creepy. Tersenyum, nampak imut, sambil menggulung tangan baju untuk menghajar orang yang menghina sapi balapannya sampai babak-belur. Nenek Ben sangat suka makan pai apel.
  • Tuan Berkerudung, mungkin terjemahan dari Hooded Man. Dia, yah,berkerudung 😀 Bukan jilbab, atau selendang, tapi jubah bertutup kepala kayak biasanya Death itu loh, kayak jubahnya Dementor di Harry Potter, kayak jubah Ringwraith di Lord of the Rings. Wajahnya, tentu saja, tidak kelihatan. Dia juga membawa-bawa sabit besar seperti Grim Reaper. Nah, makhluk inilah sebenarnya yang terobsesi pada Bone yang mempunyai bintang di dada, dialah yang memerintahkan monster tikus mencari Bone “tertentu” ini. Reputasi si Bone “tertentu” ini luar biasa juga, sampai bisa mencapai The Valley. Apakah Tuan Berkerudung ini juga monster tikus? Kelihatannya bukan. Soalnya kalau dia menjulurkan lehernya, kelihatannya lehernya panjang. Para monster tikus menganggap dia pemimpin mereka.

Bone harus berinteraksi dengan tokoh-tokoh itu dalam usahanya menemukan dan mengembalikan sepupu-sepupunya dengan selamat ke Boneville (rupanya penduduk Boneville punya memory span yang pendek yah). Tidak banyak action dalam buku I ini, tetapi pasti akan lebih banyak pada buku selanjutnya, karena serial ini bertahan sejak tahun 1991, hebat kan. Jadi Buku I ini adalah pengenalan tokoh. Apa yang membuat saya suka komik ini sejak buku I padahal storyline-nya belum jelas dan tidak banyak action? Karena gambar-gambarnya yang indah. Beda dengan teman saya ini yang baca komik kayak membalik yellow pages, saya membaca komik untuk melihat gambarnya. Semakin detil, semakin suka. Nah, untuk Bone, tokoh-tokoh fantasinya, mulai dari Bone sampai Naga Merah, anak-anak keluarga Possum sampai monster tikus digambarkan dengan begitu kuat dan konsisten, sehingga kita serasa mengenal kepribadiannya hanya dari gambarnya saja. Anehnya, untuk tokoh manusia utamanya, yaitu Thorn dan Nenek Ben, digambarkan tidak terlalu bagus. Oh, oke, Nenek Ben bagus, terasa creepy-nya, tapi Thorn itu loh, jeleknya amit-amit, cuma body aja seksi, mungkin saya kebanyakan melihat komik bikinan Clamp 🙂

Komik ini ada 55 seri, dan berakhir ditulis tahun 2004. Sudah keluar edisi graphic novelnya yang omnibus. Terjemahannya oke, cukup gaul untuk komik 🙂 Saya suka. ‘Naff said.

jeff_and_vijaya.jpgBuku ini dipersembahkan oleh Jeff Smith untuk istrinya, Vijaya Iyer, keturunan India, yang menemaninya kemana-mana, baik untuk tur maupun mencari ide untuk komiknya. Kabarnya, dulu Jeff hanya membuat komik ini untuk kalangan sendiri, untuk dibaca oleh istrinya. Komik ini baru dikenal sesudah dia mempublikasikan strip-strip komiknya melalui internet. Lihat fotonya, dia cakep yah. Kanan bawah itu Phoney, yang tinggi Smiley, yang di pangkuan Vijaya itu Fone Bone. Di depan itu moster tikus dan yang merah di belakang itu sang Naga. Yang tiga ekor bergantung-gantung itu tiga anak keluarga Possum. Kabarnya tahun 2008 Jeff akan mengeluarkan serial sci-fi berjudul RASL, tentang “a dimension-jumping art thief with personal problems“. Waaaw, kapan masuk Indonesia yah?

Neil Gaiman, sang penulis Stardust, Matt Groening, pencipta The Simpsons, dan Frank Miller, pembuat 300, disebut-sebut sangat menyukai Bone series. Serial Bone telah mendapat banyak sekali penghargaan. Eisner Award dan Harvey Award (penghargaan untuk pencapaian di buku jenis komik di Amerika), dan berbagai penghargaan dari berbagai negara.

Oya, komik ini sudah dibuat game PC-nya lo. Tentu bergenre adventure. Review untuk keasikan gamenya yang Out of Boneville kurang bagus, tapi graphicnya kabarnya bagus. Nickelodeon kabarnya ingin membuat filmnya, tetapi karena tidak bisa menyamakan persepsi, Bone tidak pernah difilmkan. Kabarnya orang-orang Nickelodeon ingin memasukkan lagu pop yang dinyanyikan Britney Spears (idih..) atau N’Sync ke dalam filmnya, padahal Jeff dan terutama Vijaya sudah menyatakan dari awal tidak ada lagu apa pun di dalam movie-nya Bone.

Kesimpulan? Gak sabar ingin baca buku 2. Dan buku selanjutnya dan selanjutnya lagi. Dan juga kepingin spin-offnya (Thorn; Rose; dan Stupid, Stupid Rat Tails). Waah, mesti ke Bandung nih. Ouch, gak harus ke Bandung ternyata, bisa beli di situs Pionir Jaya. Atau ada yang mau mengasih saya edisi original yang omnibus: “Bone: One Volume Edition“?

Beberapa info diperoleh dari situs resmi Bone, Adventure Lantern, dan Wikipedia. Pics diambil dari halaman bio-nya Jeff Smith di Boneville.

Mau baca review Bone nomor 1 lainnya? Monggo diklik yang di bawah:

Advertisements

25 thoughts on “Bone 1: Keluar dari Boneville

  1. hiks, yah sebal yah min….

    orang-orang ditempat seperti kita…. sering ketinggalan deh….. huhhhh

    aku kemaren sih baca di web nya penerbit pionir itu

    katanya sih bisa pesan langsung, hehehe, tapi kan aku mau memanfaatkan bu manajer yang mo ke medan, hahahahaha

  2. wah… buku baru… Seru nich. Anna belom pernah liat kayaknya nih buku. Boleh donk 😉 ehemmm… Tapi kayaknya harus ngabisin yang tiga itu dulu yaa 😦

  3. @kobo: iya aneh ya, kobo. bagaimana kalau kita buka toko buku ya di kota kita? pasti mutakhir ya? tapi jangan-jangan terus kita sendiri nyang beli 😦

    @anna: bukannya sudah kutawarin kmaren itu? tapi katanya gak suka komik ataupun graphic novel? hayoo…. lupa kamu 😀

  4. Owh, ini buku yang ditawarin kemarin yah hihihihi.. **ketahuan deh kemarin ga baca judulnya** Wah,, gimana anna berani mo minjem, kan ditenggat waktu nya bentar banget… Sedangkan yang 3 buku itu dah menunggu utk dibaca juga.. Jadi bingung deh bacanya 😦

  5. @kobo: iya aneh ya, kobo. bagaimana kalau kita buka toko buku ya di kota kita? pasti mutakhir ya? tapi jangan-jangan terus kita sendiri nyang beli 😦
    ——————–

    yah, dugaanku sih seperti itu, kita kalap sendiri beli-beli….. gak jadi jualan huahahahahhaa

  6. Yaaaa ampuuuuuun! Ni buku lucu banget deh! Walaupun gambarnya sederhana, tapi gak kalah sama ceritanya yang lucu. Pertama kali liat sih di Toga Mas. Kok kayaknya lucu banget. Iseng beli buku 1 ma 2. Pas dibaca aku ketawa2 terus liat kocaknya Bone’s Brothers. Apalagi naga merahnya. Masa iya ngerokok segala? Tapi sayangnya yang buku 4 gak ada. Jadinya cuma beli buku 3,5, ma 6. Ada yang punya seri lengkapnya gak ya? Rugi deh kalo gak baca!
    Good Job, Jeff!

  7. Mengisi libur lebaran? Ayo baca komik BONE… sudah terbit sampai Vol. 8 + edisi spesial !!!

    Dapatkan di toko-toko buku terdekat: Gramedia, Toga Mas, & Gunung Agung…

    Jika Anda sulit memperolehnya bisa memesan langsung ke e-mail kami sebelum tgl 25 September….

    Jangan lewatkan!!!

    Pionir Jaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s