Beyond the Deepwoods

oleh Paul Stewart (penulis) & Chris Riddell (ilustrator)
Diterjemahkan dari judul asli yang sama
Penerjemah Meithya Rose Prasetya
Penerbit Matahati, Jakarta, 2007
ISBN 9791141002
348 halaman

Tadinya aku pesimis dengan buku ini. Sebagai pembaca buku yang mendasarkan pembelian bukunya berdasarkan cover, aku menganggap covernya tidak menarik: wajah besar seekor binatang yang tidak bisa diidentifikasi dari jenis apa, dan seorang anak berambut jelek dengan selera berpakaian tidak kalah jeleknya. Tapi ini hadiah dari Penerbit Matahati (thanks, NatNat, yang telah memperkenalkanku dengan serial ini).

Dan apa yang terjadi sesudah aku membuka bab pertama? Aku jatuh cinta pada semua ilustrasinya. Tahu-tahu aku terus-menerus membawa-bawa buku ini kemana-mana untuk dilihat-lihat lagi gambar-gambarnya. Ilustrasinya sangat indah dan mendetil, tidak bosan-bosan rasanya setiap membaca beberapa halaman, lalu membalik lagi ke halaman-halaman sebelumnya untuk melihat ilustrasi yang mendukungnya. Bisa dibilang setiap 2 halaman ada 1 ilustrasi. Mengingatkan kita pada gambar-gambar imajinatif dalam Abarat-nya Barker. Cuma dalam buku ini, ilustrasinya hitam putih, dan jauuuh lebih mendetil. Setiap helai daun, setiap ikal rambut, setiap duri tanaman digambar satu-satu. Slurp banget. Dengan makhluk-makhluk yang hampir semuanya adalah imajinasi sang pengarang (dan ilustrator) sendiri.

Apa? Aku harus mereview ceritanya juga? Oh, baiklah.

The Edge Chronicles sebenarnya terdiri dari 11 buku (tidak usah kaget begitu, dong). Kesebelas buku itu adalah kumpulan dari 3 trilogi, 1 standalone book, dan 1 final book tentang dunia bernama The Edge. Buku ini adalah bagian dari The Twig Saga. Begitu memulai serial ini, bersiap-siaplah terengah-engah mengejar-ngejar sambungannya yang mustahil diterjemahkan semuanya ke bahasa Indonesia (berharap Matahati bersedia melakukannya).

Seperti Discworld-nya Pratchett yang mempunyai bentuk dunia yang unik dan mendukung teori bahwa “dunia itu datar”, The Edge adalah … yah, Edge. Sejulur tanah segitiga yang berakhir di jurang curam. Atau mungkin juga itu sebuah pulau terapung berbentuk segitiga. Di Edge ada The Deepwoods, sebuah hutan lebat tak tertembus dan berbahaya; the Twilight Woods, hutan bermandi cahaya yang membuat orang lupa segala; the Mire, rawa luas berbau busuk tempat pembuangan limbah dengan cairan yang menetes-netes over the edge; the Edgelands, tanah gersang yang diduga adalah tempat tinggal hantu dan roh, yang kalau kita tidak hati-hati, bisa tahu-tahu “fall off the edge”; Undertown, yang tidak seperti namanya, terletak di atas tanah, pusat perekonomian di The Edge; the Stone Gardens, yang mengingatkanku pada The Myst; dan Sanctaphrax, pusat ilmu pengetahuan, sebuah pulau kecil terapung yang diikatkan ke tengah Undertown dengan jangkar agar tidak melayang ke kehampaan. Halaman pertama buku ini menggambarkan The Edge dengan sempurna.

Seluruh cerita ini terutama terjadi di Deepwoods. Twig, seorang… makhluk yang sangat mirip manusia merasa bahwa dirinya bukanlah bagian dari keluarga tempat dia tinggal. Orang tuanya adalah woodtroll, troll pecinta kayu berbadan gemuk pendek, yang tidak pernah berani “keluar dari jalur“, karena kalau mereka tersesat, “gloamgloazer akan menangkapmu“. Untuk masuk ke Deepwoods saja, mereka harus mengikatkan diri ke tali yang diikatkan ke jangkar yang dipasang ke pohon jangkar di tepi Deepwoods. Di lingkungan sekitar rumahnya, Twig tidak mempunyai teman. Suatu hari, orangtuanya memutuskan untuk bercerita bahwa Twig sebenarnya mereka temukan di bawah pohon dekat pondok mereka tiga belas tahun sebelumnya. Dan mereka juga memutuskan bahwa sudah tiba saatnya bagi Twig untuk meninggalkan rumah dan pergi ke rumah sepupunya Snetterbark. Walaupun aku ragu apakah orang tuanya memang mengharapkan anaknya sampai ke rumah sepupunya itu atau hanya ingin menjauhkan anaknya dari perompak langit yang ingin mempekerjakan anaknya di kapal langit.

Sebagai anak yang berbeda dengan woodtrolls, dan karena menurutku dia memang agak manja dan kurang patuh, maka baru memasuki Deepwoods, Twig sudah tersesat karena keluar dari jalan seharusnya. Dimulailah petualangan Twig menjelajahi seluruh Deepwoods dan bertemu semua makhluk-makhluk aneh yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ya, bahkan dalam 1 bab bisa bertemu 2-3 macam makhluk fantasi. Yang sebagian besar agak… em… menjijikkan. Kurasa begitu mencapai buku ke-11, imajinasi Mr. Stewart mestinya sudah habis. Cacing terbang, misalnya. Percayalah, jangan membayangkan ini hanya sesederhana seekor cacing yang terbang dengan sayap. Tidak. Cacing terbang itu adalah seekor cacing sebesar ular gendut, yang panjang dan berbonggol-bonggol, dengan kulit hijau berlendir dan berkilauan, dan di sekujur tubuh cacing itu ada benjol-benjol kuning yang terus-menerus meneteskan cairan bening. Apakah dia bersayap? Oh tidak. Lalu bagaimana cara dia terbang? Hewan itu mempunyai barisan lubang di sepanjang perut bawahnya yang terus menerus menghembuskan udara ke bawah, sehingga cacing itu bisa melayang. Bibirnya seperti karet, dengan sungut terkulai, dan mulut megap-megap. Mulut ini penuh tentakel yang di setiap tentakelnya memiliki pengisap basah di ujungnya. Tentakel-tentakel itu menggeliat-geliat seperti belatung, berbau seperti minyak tengik. Ya, deskripsinya sedetil itu. Dan ilustrasinya lebih-lebih lagi, sangat sesuai dengan deskripsinya. Keren, bukan?

Ceritanya sendiri menurutku seperti tidak punya arah. Twig terus-menerus terlempar lepas dari satu cengkeraman satu makhluk ke mulut makhluk lain tanpa tujuan jelas. Serasa membaca Trilogi Inheritance buku 1 (Eragon), yang berjalan kesana kemari tidak jelas, tetapi berlipat-lipat kali lebih dahsyat. Atau mungkin juga Mr Stewart ingin memperkenalkan dulu semua makhluk di Deepwoods? Entahlah. Yang jelas, endingnya agak-agak mengecewakan: Hanya begitu? Sesudah semua pengalaman-menjijikkan-dan-membuatnya-selalu-hampir-mati? Tapi dengar-dengar sih buku 2-nya lebih baik dari buku 1, jadi aku tidak sabar (melihat ilustrasinya).

Jadi, kalau kamu tidak keberatan membaca hal-hal menjijikkan, sadis, dan tanpa tujuan, tetapi sangat mencintai ilustrasi indah dalam sebuah buku, maka buku ini untukmu. Untuk kalian pembaca cerewet yang menginginkan buku fantasi tebal yang elegan tanpa ilustrasi karena menganggap ilustrasi itu merusak imajinasi (oh betapa salahnya dirimu, nak), maka buku ini tidak akan pernah kau anggap cukup layak berada di rak bukumu.

Buku ini juga direview oleh:

Advertisements

5 thoughts on “Beyond the Deepwoods

  1. Pingback: The Edge Chronicles: Beyond the Deepwoods « annova

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s