Waking Lazarus

11626Oleh TL Hines
Diterjemahkan oleh Cahya Wiratama
Penerbit Bentang Yogyakarta, 2008
ISBN 9789791227438
387 halaman

Aku selalu tertarik dengan -entah itu- film ataupun buku bila judulnya ada kata Lazarus-nya. Istilah Lazarus sering muncul apabila seseorang kembali hidup sesudah resusitasi dianggap tidak berhasil lagi dan orang itu sudah dinyatakan mati. Istilah ini muncul dari cerita dalam Alkitab tentang Lazarus of Bethany (sebuah kebetulan atau tidak, penerbit asli buku ini adalah Bethany House Publisher) yang bangun lagi dari kematiannya sesudah dikuburkan selama 4 hari. Jadi kata “waking” pada judul buku ini sebenarnya tidak perlu.

Buku ini adalah buku thriller (dengan pesan-pesan religius tersembunyi di sana-sini), dan sekali memulai membacanya, agak sulit berhenti, karena ceritanya berjalan cepat dan menegangkan. Bagian-bagian awal cerita dimulai dengan flashback ke 24 tahun sebelumnya, ketika Jude Allman meninggal (dan hidup kembali) untuk pertama kalinya, pada usia delapan tahun, karena tenggelam. Selanjutnya, flashback terjadi berselang-seling dengan masa kini. Pada usia 16 tahun, Jude meninggal lagi, kali ini karena disambar petir. Dan kali ketiga, pada usia 24 tahun, Jude mengalami hal yang sama ketika dirinya mati beku dalam perjalanan pulang ke rumah dari tempatnya kuliah. Kembalinya Jude dari kematian selalu diikuti dengan rasa tembaga di mulutnya, suatu sensasi yang di bawanya dari Sisi Lain. Sejak itu, rasa tembaga itu selalu mengingatkannya dengan kematian.

Sekarang, Jude Allman, atau sekarang menyamar sebagai Ron Gress, telah berada di Red Lodge, tempat yang berbeda dari tempat kelahirannya. Jauh dari semua yang mengenalnya, jauh dari hiruk-pikuk keselebritian yang ditimbulkan oleh ke-Lazarus-annya. Masa lalunya yang tidak menyenangkan, oleh otaknya ditutupi dengan banyak blackout, untuk memudahkan dirinya bisa hidup normal. Yah, senormal seorang Jude Allman bisa hidup. Ron Gress hidup sendirian di rumah yang dilengkapi dengan sistem pengamanan yang manual sampai modern, terkungkung dalam gangguan paranoid. Walaupun sudah mempunyai istri (Rachel) dan anak (Nathan), Ron memilih untuk menarik diri dari kehidupan orang lain, menyembunyikan rahasia masa lalunya dari orang lain, bahkan dari dirinya sendiri. Tidak mengizinkan orang untuk mengenalnya lebih dekat, dan melarang dirinya bersentuhan dengan orang lain, bahkan dengan bekas istrinya. Satu-satunya orang yang bisa disentuhnya hanya anaknya, walaupun dengan susah payah.

Ron bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah sekolah, bersama seseorang yang lain, bernama Frank, yang mempunyai pekerjaan sampingan lain di ruang bawah tanah di rumahnya. Frank sendiri menyebut pekerjaan sampingannya sebagai Pekerjaan Sejati. Pekerjaan apa itu, Ron tidak tahu dan tidak ingin tahu.

Sementara itu, daerah-daerah di sekitar Red Lodge dipenuhi dengan berita anak hilang. Dari titik-titik lokasi anak hilang yang dipetakan, kelihatannya sebentar lagi hal itu akan terjadi di Red Lodge. Mike Odum, kepala polisi di Red Lodge terus mengikuti perkembangan ini, merasa yakin bahwa kalau hal ini terjadi di kotanya, dirinya sudah siap. Odum merasa yakin bahwa dirinya mengerti pola dan cara berpikir penculik anak itu.

Pertemuan dan perkenalan pertama Ron dengan Odum adalah ketika Ron berada di dekat tempat kejadian tabrakan mobil di depan Red Lodge Cafe. Hari itu, Ron harus berbicara dengan Kristina, seseorang yang mengaku sekarat dan mengenali Ron sebagai Jude Allman. Ron menduga Kristina ingin tahu apa yang ada di Sisi Lain, seperti yang selalu ingin diketahui orang yang sudah mendekati kematian. Pada hari pertemuan itu, untuk pertama kali sesudah bertahun-tahun, Ron merasakan kembali sensasi rasa tembaga di mulutnya. Beberapa saat kemudian, seseorang tertabrak mobil di depan matanya. Bukan hanya itu, dengan menyentuh orang yang akan meninggal itu, dia bisa melihat kilasan kehidupan orang tersebut. Sejak peristiwa itu, Ron berubah dan banyak berpikir tentang kemampuannya, dan kaitannya dengan masa lalu yang telah dia coba untuk dilupakan. Kristina menyebut penglihatannya ini sebagai “gift”, sedangkan Rachel menganggap penglihatan dan sensasi rasa tembaganya itu sebagai gejala epilepsi.

Sampai sini, kita bisa menduga jalan cerita selanjutnya. Semua tokoh di atas akan saling terkait: terjadi penculikan anak di Red Lodge. Mudah ditebak, deh. Tetapi apakah tokoh pencuri anak ini adalah yang ada dalam pikiranmu saat ini? Hohoho, bukan. Tidak ada petunjuk sama sekali sampai suatu bab di dekat akhir, ketika kita tahu mobil apa yang dikendarai oleh sang penculik anak. Tuh, spoilernya :p

Endingnya? Aku kurang puas! Yah, happy end tentunya, tetapi terlalu sederhana untuk ukuran cerita yang dijalin dengan tegang seperti ini. Aku ingin lebih!

Selain itu banyak hal yang masih jadi pertanyaan atau terasa gak pas. Perubahan Ron yang paranoid dan tidak percaya pada siapa pun menjadi Ron yang percaya diri dan mau terbuka pada banyak orang (terutama Kristina) terjadi terlalu cepat. Juga mengapa pada satu saat Jude bisa mempunyai “penglihatan”, tetapi di saat lain dia tidak bisa (seperti pada saat menyentuh Nicole, sahabat Rachel?). Aku juga tidak puas dengan penjelasan tentang Kristina. Ada yang bisa menjelaskan dia siapa? Dan banyak lagi hal lain. Tetapi, dengan berbagai kekurangan itu, aku tetap saja memberi buku ini 4 bintang 🙂

Tony L Hines sebelumnya adalah pemilik usaha periklanan, penulis artikel dan editor majalah, serta penulis buku nonfiksi. Buku ini adalah novel pertamanya. Buku ini sudah ditawarkannya pada banyak penerbit (kabarnya sih sampai lebih dari 80 agen), dan tidak ada yang tertarik. Akhirnya bab 1 buku ini dipasangnya di blognya, dan ternyata sebuah penerbit (Bethany yang kusebut-sebut di atas) tertarik dan menawarkan diri untuk menerbitkannya.

Hines ini sepertinya senang sekali bersosialisasi. Di situsnya, orang bisa bertanya apa saja tentang dirinya, bersedia ditelpon dan chatting dengan para librarian, penerbit, dan reading groups. Yang mau jadi volunteer book publicist, dan dianggapnya sangat inovatif, akan menjadi tokoh dalam bukunya berikutnya. Apa itu yang dimaksud dengan volunteer book publicist? Hanya dengan menyebarkan berita tentang bukunya ini. Bisa dikatakan, tulisanku ini sudah masuk kategori volunteer publicist untuk Waking Lazarus. Nah, seratus top publicist akan dapat 10% royalti bukunya. Oya, omong-omong, Hines sangat menyukai karya Stephen King, terutama It. Yap, menurutku It adalah buku terbaik Stephen King, walau solusi menghilangkan monster di masa kecil tokoh-tokoh dalam buku itu agak-agak… er…. gitu deh.

Ide untuk buku ini diperoleh Hines dari pengalamannya sendiri ketika dirinya terjatuh ke dalam danau di musim dingin saat sedang memancing ikan bersama pamannya. Hines juga pernah menjadi petugas kebersihan di Universitas Montana, dan salah satu tugasnya adalah membersihkan ruangan tempat cadaver disimpan.

Penerjemahan buku ini cukup bagus, sayang sang penerjemah merasa sangat perlu untuk memberikan catatan kaki yang tidak perlu, mengenai konversi suhu dari Fahrenheit ke Celcius yang diulang-ulang (padahal kan cukup sekali), sampai penjelasan istilah media yang kadang kurang tepat (mis. hyperventilate).

Oya, tentang covernya, cowok yang digambarkan sebagai si Lazarus ini kok keren bener ya, hihihi. Kalau ada petugas kebersihan seperti ini, sepertinya murid-murid perempuan sekolah itu akan lebih sering berada di koridor yang sedang dilap oleh Ron.

Cover buku, seperti yang kamu lihat dari watermark-nya, diambil dari situs toko buku online Bukukita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s