Stormchaser

stormchaserOleh Paul Stewart (penulis) & Chris Riddell (ilustrator)
Diterjemahkan oleh Meithya Rose Prasetya
Penerbit Matahati, Jakarta, 2008
ISBN 9789791141116
462 halaman

Sesudah membaca buku 1 dari seri The Twig Saga yang merupakan bagian dari The Edge Chronicles, aku tidak sabar menunggu buku 2-nya. Seperti yang sudah kusebut sebelumnya, buku ini hanya 1 dari segabruk buku (11 buku, saudara-saudara!) dalam serial yang berkaitan dengan the Edge. Dengan harapan akan disuguhi dengan ilustrasi yang indah dan banyak lagi. Yah, yang jelas, covernya aja aku udah suka! Mengingatkan pada cover buku-buku Terry Pratchett yang edisi Corgi, cuma kalo covernya Pratchett ilustrasinya kontinu dari depan sampai ke belakang, memuat hampir semua tokoh dalam buku, sedangkan yang Stormchaser ini tidak kontinu.

Kalau kita ingat, buku 1 kemaren diakhiri dengan perjumpaan Twig dengan ayahnya, sang kapten kapal perompak langit, Quintinius Verginix, alias Cloud Wolf. Nah, buku ini diawali dengan berbagai kejadian di Undertown sebelum Cloud Wolf harus membawa kapal langitnya untuk mencari stormphrax. Mari kita ingat-ingat kembali peta The Edge: ada Hutan Deepwoods (di buku 2 disebut dengan Belantara Deepwoods), sebuah hutan lebat tak tertembus dan berbahaya; ada Hutan Twilight (di buku 2 disebut dengan Hutan Temaram), hutan bermandi cahaya yang membuat orang lupa segala; Rawa, yang berbau busuk tempat pembuangan limbah; the Edgeland, tanah gersang yang diduga adalah tempat tinggal hantu dan roh; Undertown, pusat perekonomian di The Edge; Taman Batu; dan Sanctaphrax, pulau kecil terapung yang diikatkan ke tengah Undertown dengan jangkar.

Cerita dalam buku ini terjadi di Undertown, Sanctaphrax, dan Hutan Twilight. Undertown, seperti Jakarta juga, selalu menarik orang-orang dari tempat lain untuk datang demi mencari pekerjaan dan memperoleh kehidupan yang lebih layak. Bedanya, Undertown lebih mirip seperti bagian kota Jakarta yang kumuh, padat, bising, dipenuhi oleh berbagai jenis makhluk yang saling tindas dan licik. Undertown selalu diselubungi oleh kabut asap yang kotor, dan sumber airnya adalah Sungai Edgewater yang kotor dan tercemar, akibat tercampur limbah pabrik. Sementara itu, Sanctaphrax merupakan tempat para cendekiawan, atau biasa disebut dengan akademisi, yang saling bersaing dan saling libas penuh kecemburuan. Sanctaphrax dipertahankan melayang di atas Edge (dan tidak terbang pergi ke kehampaan) oleh rantai yang mengikatnya ke Undertown, dan, nah ini yang paling penting: batu raksasa stormphrax yang diletakkan di treasury, jauh di bawah tanah Sanctaphrax. Batu raksasa ini dalam keadaan gelap gulita akan menjadi sangat berat, dan mampu mempertahankan kota apung Sanctaphrax agar tetap di tempatnya, namun apabila terkena cahaya, akan mengapung dan bertambah ringan. Stormphrax adalah kristal yang dibentuk oleh ledakan petir di atas Hutan Twilight ketika munculnya Badai Akbar. Kelihatannya setiap badai besar yang datang dari luar Edge akan selalu tertarik ke Hutan Twilight, persis seperti laron tertarik pada api. Karena bahaya yang timbul apabila seseorang memasuki Hutan Twilight, maka setiap Badai Akbar muncul, yang muncul setiap beberapa tahun sekali, akan dikirim seorang Akademikus Ksatria dengan sebuah kapal pemburu badai (Stormchaser) untuk mencari stormphrax, agar treasury tidak pernah kehabisan batu berharga ini, dan rantai penahan Sanctaphrax tidak pernah putus saking tidak kuatnya menahan tarikan ke atas dari Sanctaphrax.

Twig yang sedang berjalan-jalan di Undertown,di sela perjalanannya dengan kapal langit, bertemu dengan Caterbird, yang dulu selalu membantunya. Caterbird itu berada di dalam sangkar di depan sebuah toko hewan. Dengan janji bahwa Twig akan melepaskan Caterbird itu dari kungkungan sangkar, Caterbird menceritakan sebuah kisah yang berawal 20 tahun sebelumnya, ketika ayah Twig masih muda:

Vilnix Pompolnius saat ini adalah Akademia Tertinggi di Sanctaphrax. Tetapi 20 tahun sebelumnya, Akademia Tertinggi dipegang oleh pasangan Profesor Cahaya dan Profesor Kegelapan, sementara Vilnix hanyalah seorang murid, namun ambisinya yang tidak kenal batas telah mendorongnya untuk menyusun rencana jahat. Vilnix mencuri beberapa potong stormphrax dari treasury, berharap bisa mengendalikan energi yang dimiliki batu itu. Namun semua usaha yang dilakukannya di laboratorium sia-sia, sehingga dengan marah Vilnix menumbuk batu itu dengan alu, mengakibatkan seluruh menara kediamannya hancur, namun Vilnix sendiri selamat. Batu itu berubah menjadi bubuk sepia yang dapat mengubah cairan apa pun menjadi air sebening kristal. Bayangkan potensinya, dia telah menemukan rahasia untuk memurnikan air. Sementara itu, akibat hilangnya beberapa potong stormphrax dari treasury, kota Sanctaphrax menjadi lebih ringan dan rantai pengikatnya ke Undertown terancam putus. Ksatria terakhir yang dikirim mencari stormphrax 9 tahun sebelumnya, Screedius Tollinix, tidak pernah kembali. Untunglah saat itu dikonfirmasi bahwa Badai Akbar akan datang segera, dan Quintinius Verginix dipanggil untuk dianugerahi gelar Akademikus Ksatria. Untuk itu, Quintinius harus bersumpah dan meminum air sungai Edgewater. Sayangnya, air Sungai Edgewater adalah air tercemar, sehingga tidak ada siapa pun yang mau meminumnya. Pada saat itulah Vilnix datang, dan mencelupkan medali perak berbentuk bola miliknya ke dalam gelas berisi air tersebut, dan air seketika menjadi sebening kristal. Dengan menyatakan bahwa dirinya telah menemukan suatu zat bernama phraxdust, Vilnix mengklaim posisi sebagai Akademia Tertinggi. Menurut Vilnix, solusi untuk mempertahankan Sanctaphrax agar tetap di tempat bukanlah dengan bersusah-payah mengirim Akademikus Ksatria capek-capek pergi mengejar Badai Akbar dengan banyak risiko, melainkan cukup dengan memasang lebih banyak rantai untuk membantu kekuatan Rantai Jangkar yang sudah ada, yang berarti lebih banyak pabrik dan pengecoran besi, mengakibatkan lebih banyak limbah, namun air limbah bisa dengan mudah dimurnikan dengan hanya sedikit sekali phraxdust. Sementara itu, Quintinius yang tidak jadi dianugerahi gelar Ksatria meninggalkan tempat dengan marah dan menyatakan diri sebagai Cloud Wolf, sang perompak langit.

Dua puluh tahun kemudian, yaitu saat ini, keadaan semakin memburuk. Lingkaran setan telah terbentuk: semakin banyak rantai dibuat, semakin banyak limbah pabrik, semakin tercemar air, semakin banyak phraxdust dibutuhkan, semakin berkurang jumlah stormphrax dari treasury, semakin ringan Sanctaphrax, semakin banyak rantai yang diperlukan. Demikian seterusnya. Apalagi pembuatan phraxdust membutuhkan banyak sumber daya: kematian banyak orang dan kehancuran gedung.

Nyonya Horsefeather adalah rentenir terkaya di Undertown. Kedai minumnya yang bernama Bloodoak hanyalah pekerjaan sampingannya. Persekutuannya dengan Cloud Wolf telah menjamin kekayaannya. Nyonya Horsefeather membiayai pemeliharaan kapal langit, sekaligus mengambil sebagian besar keuntungan penjualan hasil kerja perompak langit. Pada penerbangannya yang terakhir, Stormchaser, kapal langit Cloud Wolf, mengalami kerusakan berat dan kehilangan semua kargo dagangannya, sehingga belitan hutangnya pada Nyonya Horsefeather semakin besar. Nyonya Horsefeather menawarkan kepada Cloud Wolf suatu kesepakatan: apabila Cloud Wolf bersedia mencari stormphrax di Hutan Twilight (kebetulan sebentar lagi akan terjadi Badai Akbar menurut ramalan para ilmuwan di Sanctaphrax), maka semua hutangnya akan dilunasi, asalkan semua stormphrax diserahkan pada Nyonya Horsefeather. Ketika kemudian Profesor Cahaya sendiri yang meminta, akhirnya Cloud Wolf setuju. Dalam perjalanan ini, Twig tidak diizinkan ikut oleh Cloud Wolf. Sementara itu, sialnya, juru mudinya, Slyvo Spleethe adalah mata-mata untuk Liga Dagang Bebas Undertown, yang menjadi kaki tangan Vilnix Pompolnius. Slyvo diminta untuk melakukan tindakan apa pun yang dipandang perlu untuk merebut stormphrax. Sesudah berhasil mengetahui bahwa Twig adalah putra sang Kapten, Slyvo menyelundupkan Twig ke dalam Stormchaser, siapa tahu diperlukan untuk mengancam sang Kapten. Di tengah badai yang mengombang-ambingkan Stormchaser ke arah Hutan Twilight, Twig akhirnya mengetahui rencana jahat Slyvo, namun saat itu sudah terlambat. Ketika stormphrax mulai terbentuk, Slyvo sudah menyerang Cloud Wolf dan mengancam untuk membunuh puteranya, Twig. Perkelahian ini mengakibatkan kerusakan Stormchaser, dan semua awak kapal harus meninggalkan kapal langit, dan terbang turun ke Hutan Twilight, sementara Kapten Cloud Wolf terus tetap berada di kapal, terbang bersama badai.

Hutan Twilight, seperti telah disebutkan sebelumnya, bisa membuat orang menjadi gila dan melupakan tujuan hidupnya, tersesat selamanya di dalam hutan. Ke sanalah Twig dan para awak Stormchaser (Spiker, Stope Boltjaw, Stone Pilot, Tem Barkwater, Hubble, Profesor Cahaya) jatuh. Mulai dari sini, perjalanan Twig mulai menarik. Usahanya untuk mencari stormphrax, keluar dari Hutan Twilight, menembus Rawa yang berbahaya yang dihuni oleh makhluk monster Screed yang hobinya mengumpulkan jari kaki, dan kepusingannya memikirkan bagaimana membawa stormphrax kembali ke Sanctaphrax. Menarik sekali bagaimana Twig menghadapi Nyonya Horsefeather dan Vilnix. Buku ini lebih sadis daripada buku 1-nya: banyak kematian dan kesedihan terjadi, namun Twig telah mejelma menjadi lebih dewasa, tidak lagi merengek-rengek menyebalkan seperti di buku sebelumnya. Yang jelas, benar kata orang-orang, kalau buku 1 menang di sisi ilustrasi, maka buku 2 ini jauuuuh lebih keren dari segi storyline dibanding buku 1.

Ilustrasinya tidak lagi sebanyak buku Beyond the Deepwoods, namun ceritanya benar-benar berjalan cepat dan menegangkan, sekali baca, malas meletakkannya sampai selesai. Berarti buku pertama kemarin memang benar-benar untuk pengenalan karakter, walau kemudian hanya sedikit sekali tokoh di buku 1 muncul di buku 2.

Penerjemahannya bagus, hanya ada sedikit ketidakkonsistenan dalam penerjemahan istilah. Bab Pengantar di buku 1 dan buku 2 sebenarnya harusnya persis sama, karena kelihatannya diterjemahkan dari teks yang sama di dalam bahasa aslinya. Kertas di buku 2 ini juga lebih bagus. Sayang sekali kali ini tidak ada pembatas bukunya. Tetapi, tetep ya, terima kasih Natnat dan Penerbit Matahati untuk kiriman buku ini πŸ™‚

Advertisements

7 thoughts on “Stormchaser

  1. Wih bagus ya buku 2 nya ? Saya bc buku 1 nya kurang menggigit. Kmrn wkt di gramed sempet pecicilan mo beli tp ditahan. Mengingat seri satunya kurang mak nyuss.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s