The Naked Traveler

The Naked Traveler
Oleh Trinity
Penerbit C Publishing (PT Bentang Pustaka), Yogyakarta, 2008
ISBN 9789792439366
279 halaman

Bisa dibilang telat banget mereview buku ini, dapetnya dan bacanya sudah lama banget, kayaknya dapatnya sebagai buntelan pas acara “Festival Mei VeteranMenjadi Kutubuku Itu Keren”, kerjasama Indonesia Buku dan Persekutuan Kubugil di Mata Hari Domus Bataviasche Nouvelles Café. Jalan Veteram Jakarta 2 tahun yang lalu ya? Ada cap Kubugil-nya soalnya 😀 Yah, review ini ditulis dalam menyongsong munculnya buku Trinity yang kedua, masih berjudul The Naked Traveler juga, tapi seri 2, belum ada nih di toko buku sini.

Sebenarnya sudah lama mengikuti blog Trinity melalui RSS Feed, tapi harap maklum, RSS feed ini umumnya ditarikin saja pake Thunderbird, tetapi membacanya entah kapan, jadi tidak semua postingan dia terbaca. Waktu akhirnya tulisan di blognya dibukukan, jadi senang, karena bisa baca offline, dan tidak perlu klak-klik untuk mencari posting-postingnya terdahulu. Selain itu, buku ini dikelompokkan menjadi bagian-bagian yang setopik, misalnya Airport, Alat Transportasi,Tips, Adrenaline, dan sebagainya. Jadinya menarik, tidak hanya sekedar memindahkan tulisan di blog. Selain itu, ibu satu ini lucu 😀

Buku ini diberi subtitle “Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia“. Trinity memang backpacker, sebagian cerita dalam bukunya adalah waktu dia bacpacking, tetapi ada juga cerita tentang waktu dia bawa koper. Tidak hanya keliling dunia, tetapi ke tempat-tempat aneh di Indonesia dia juga pernah. Ada perjalanan bisnis, ada yang memang dia khusus pergi berlibur dengan biaya sendiri. Pernah juga dia berangkat dengan tiket gratis dari orang Indonesia “tak dikenal” (Mr. X) yang tinggal di Amerika dan sudah chatting lama dengannya.

Buat traveler, sebagian cerita serasa cerita tentang diri sendiri. Di bagian Airport, cerita tentang delay pesawat dan kesulitan mau menginap di mana pernah saya rasakan. Kalau Trinity pernah nekad tidur di bandara, saya tidak pernah berani, harap maklum, travelling saya hanya domestik, dan terbayang kaaaan seperti apa bandara-bandara di Indonesia? Apalagi toiletnya, iiih, dan mana ada kamar mandi di bandara? Tempat wudhu dan shalat juga lembab dan berbau tidak enak. Kecuali bisa masuk ke executive lounge, dan bengong di sana berjam-jam atau nginap sekalian (apa boleh ya?). Saya, seperti Trinity, gak tahan dingin ekstrim dari AC sentral, jadi tinggal di exevutive lounge lebih dari 2 jam bisa bikin saya sakit kepala, pilek, dan sakit beneran sesudahnya.  Oya, saya juga tidak punya credit card, untuk alasan bahayanya ketersaluran hobi bookshopaholic.

Masalah bagasi juga diceritakan dengan lucu. Kalau ingat orang Indonesia yah, kan suka bawa oleh-oleh dalam banyak kotak kardus bekas Aqua atau mie atau biskuit. Nah, di tempat pengambilan bagasi, tu bagasi kan pada akhirnya akan sampai juga ke ujung conveyor belt. Tapi, dengan suara ribut dan pasang badan berdesakan (sampai yang kecil-kecil dan nenek-nenek juga ikutan) di sisi belt, begitu melihat tasnya dari kejauhan, orang di depannya didorong-dorong, dan badan sudah condong mau ngambil tas. Apalagi yang parah seperti yang diceritakan Trinity, ada yang dijatuhin aja gitu di landasan di tengah hari bolong, lalu semua berebutan memilih bagasi dan kardusnya (mengingatkan saya pada waktu masih naik kapal lambat -lawan kapal cepat- kelas ekonomi ke Surabaya, di mana barang diturunkan ke pelabuhan, diletakkan dalam kurungan rantai, lalu kita berteriak-teriak menunjuk-nunjuk pada portir untuk diambilkan tas).

Berbagai pesawat yang pernah dinaikinya mulai yang kelas bisnis di Emirates Airlines (yang kata temen saya yang sudah kemana-mana, adalah maskapai terbaik di dunia yang pernah dinaikinya) sampai kelas Hercules yang rutenya dirahasiakan, sampai pesawat kecil berbaling-baling di Filipina dimana pilotnya membuka jendela dan siku ditaruh di jendela kayak sopir angkot. Walau dari dulu pengen naik Hercules, membaca cerita Trinity dan melihat banyak kecelakaan pesawat tua itu, bikin keder juga. Adiknya Nenek saya yang di Surabaya malah sudah berkali-kali naik Hercules waktu beliau belum patah tulang belakang, rute Jakarta-Surabaya-Jakarta. Ya, all my grannies memang keren-keren, sudah lebih banyak naik pesawat daripada cucunya ini, yang kena AC pesawat lebih dari sejam saja aja sudah tepar karena masuk angin.

Terus, tentang makanan di pesawat maskapai domestik memang selalu menarik untuk diceritakan, itu kalau ada yang bisa diceritakan, karena makanan di pesawat, selain Garuda dan Mandala, itu non-exist. Adanya Aqua, mungkin. Tetapi kayaknya kita masih beruntung, pramugarinya masih cakep dibanding pramugari maskapai Eropa dan Amerika, walau, pengalaman saya di salah satu maskapai murah, juteknya luar biasa, lagi PMS mungkin, tas laptop saya dibanting aja gitu sama dia ke kotak bagasi di atas kepala (membuat sejak itu saya tidak lagi membawa laptop dalam tas laptop, tapi dalam berbagai modifikasi tas yang bisa dijadikan atau dimasukkan dalam tas jinjing perempuan yang bisa disangkutkan di bahu, walaupun harus melepaskan trademark saya yang tidak pernah punya tas perempuan satu pun hehehe).

Loh, kok review ini malah jadi cerita tentang saya?

Banyak lagi cerita Trinity, masalah paspor, visa, hal-hal yang dianggap eksotis di luar negeri yang sebenarnya adalah ordinary things di negara sendiri, masalah penginapan yang butut sampai mewah beserta makanannya, tentang dugem di negara orang, cara makan hemat di luar negeri, tentang beda kemping waktu dia masih lebih muda dan waktu dia sudah lebih tuaan, tempat-tempat pemacu adrenalin yang patut dikunjungi (saya harus mencoba paragliding di Gunung Mas itu tahun ini!), dan banyak lagi, yang semua ditulis dengan humoris dan enak dibaca, bisa dibaca sekali libas deh, karena tidak membosankan. Sangat direkomendasikan untuk dimiliki dan dibaca, bisa sebagai penyemangat (atau penurun semangat) untuk backpacking dan mengunjungi daerah-daerah eksotis di Indonesia dan dunia, sekaligus referensi tips penting untuk traveling.

Omong-omong, edisi yang saya baca ini bukan yang cetakan pertama, karena cetakan pertama katanya ditarik, akibat ada cerita tentang pantai nudis (tetapi saya sempat membacanya di blognya), macam-macam saja alasan penarikan buku. Trinity diminta menghapus 3 bab dari bukunya, kalau mau terbit kembali.

Advertisements

7 thoughts on “The Naked Traveler

  1. nemu blog ini ga sengaja. Aku lg cari buku ‘the naked traveler’ bekas tp ga dpt2. Mau terima buku bekasnya klo ada hibahin =)

  2. Pingback: Daftar Buku 2010 « Book Quickies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s