Judge a Book based on Page 112

don__t_judge_a_book_by_its_cover_by_wishinghoshi-d5l7wrj

Dont’t judge a book based on its cover. Art by Wishinghoshi 

Bagaimana cara dirimu menentukan buku yang akan dibaca atau dibeli? Berdasarkan cover? Berdasarkan nama pengarang? Berdasarkan rating teman di Goodreads? Berdasarkan harga, misalnya diskonan (apalagi free)? Berdasarkan hasil membaca halaman pertama atau bab pertama? Berdasarkan sinopsis di belakang buku? Berdasarkan rekomendasi penjaga toko buku? Atau karena bukunya lagi hype? Mau difilmkan misalnya? Duh, paragraf ini penuh tanda tanya.

Setiap orang punya kriterianya sendiri. Buat diriku, pertama adalah pengarang (yang biasanya juga berarti genre). Semua buku Terry Pratchett, misalnya, pasti bagus (walau sempat salah sekali waktu dia kolaborasi dengan another one of my favourite authors, Stephen Baxter). Kemudian cover. Diriku bisa membeli buku hanya karena cover-nya. Susah dijelaskan tipe cover seperti apa. Semacam love at first sight gitu. You don’t know what makes you love it. You just do. Kemudian rating teman di Goodreads atau pendapat penjaga toko buku yang diriku tahu benar seleranya, penting ini. Kemudian harga. Mau semua hal sebelumnya di atas positif, kalau harga di atas 10-12 euro (kalau di Indonesia, buku Indonesia limitny 65 ribu, buku impor limitnya 100 ribu), saya menyerah. Kalau harga buku itu diskon, apalagi free, kadang semua hal sebelumnya bisa dilanggar. Gak konsisten gini.

Tapi diriku tidak pernah membeli atau memilih buku berdasarkan bacaan di sinopsis atau bacaan di bab pertama. Simply karena sinopsis kadang ditulis dengan jelek tanpa bisa memberikan poin menarik, padahal bukunya bagus. Dan tidak semua buku bagus sudah mulai panas mesinnya di bab pertama (Contoh: Cryptonomicon yang baru asik sesudah 100-an halaman). Selain itu, tidak semua buku yang bagus di awal, akan bagus di tengah dan akhir. Nampaknya penulis (dan editor) tahu calon pembeli akan membaca halaman-halaman pertama sebelum membeli, jadi mereka fokus di sana, dan kadang semakin melemah mendekati akhir.

Nah, hari ini membaca artikel menarik di The Guardian. Artikel ini tentang sebuah award bernama Le prix de la Page 112. Award ini katanya terinspirasi oleh quote dari filmnya Woody Allen yang berjudul “Hannah and Her Sisters”: “Don’t forget the poem on page 112. It reminded me of you!” (dia merujuk ke puisinya ee cummings, “somewhere I have never traveled”). Award ini memberikan hadiah untuk buku berbahasa Perancis yang halaman 112-nya paling bagus. Kalau kalian mengklik link di atas, mereka baru saja mengumumkan finalisnya, dan tiap title bisa diklik biar kita bisa membaca halaman 112-nya. Tentunya kalau dirimu bisa bahasa Perancis. Jurinya diminta memulai membaca pada halaman 112. Kalau bagus, baru mereka akan membaca seluruh buku.

Rasionalnya katanya begini. Karena kebiasaan semua penulis berusaha keras agar halaman-halaman pertamanya bagus, maka buku bagus atau kualitas penulis bisa dilihat dari apakah kemampuan menulisnya melemah di belakang-belakang. Misalnya pada halaman 112. Kalau dia tetap bagus di halaman 112, maka ada kemungkinan seluruh buku memang bagus.

Jadi, mari buktikan apakah reasoning di atas benar. Silakan buka buku koleksi lain yang jelek dan yang bagus, dan lihat halaman 112.

Terbukti? Kalau iya, mungkin ini bisa jadi tips bagus untuk membeli buku. Diriku tidak akan melakukannya tapinya. Membuka halaman 112 sama saja dengan membaca spoiler 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s