The Book of Lost Things (Kitab tentang Yang Telah Hilang)

the-book-of-lost-things-john-connollyOleh John Connolly
Diterjemahkan oleh Tanti Lesmana
Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008
ISBN 9789792238792
472 halaman

Buku ini disebut-sebut semua orang sebagai buku keren. Buku ini adalah kado ulang tahun dari salah seorang Kubugil, terima kasih yaaa 🙂 Maaf baru aja dibaca sekarang. *menatap kepada gerombolan pemberi hadiah buku di belakang* Ya ya ya, sabar yaaa, semua hadiah akan saya baca dan saya review *menghilang*

Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, David, merasa sangat sedih karena ibunya meninggal, tanpa ada kemampuannya untuk menolong, bahkan untuk meringankan penderitaan ibunya. Ritual yang dilakukannya, seperti selalu turun dari tempat tidur dengan kaki kiri, menghitung sampai dua puluh saat menggosok gigi, menyentuh keran atau gagang pintu dengan hitungan tertentu, membenturkan kepala sekali lagi kalau kepalanya kebetulan terantuk (karena angkanya harus genap), dan banyak hal lain, menunjukkan bahwa dirinya menderita gangguan obsesif-kompulsif (sepertinya semua anak agak-agak OCD waktu kecil, atau itu hanya aku?). Ritual ini dianggapnya terkait dengan nasib ibunya. Ketidakmampuannya melakukan ritual itu dikhawatirkannya akan memperburuk kondisi ibunya. David juga senang membacakan cerita-cerita dongeng untuk ibunya. Menurut ibunya, cerita-cerita itu menjadi hidup jika dituturkan, mereka butuh dibaca, butuh diberi kehidupan. Continue reading

Stormchaser

stormchaserOleh Paul Stewart (penulis) & Chris Riddell (ilustrator)
Diterjemahkan oleh Meithya Rose Prasetya
Penerbit Matahati, Jakarta, 2008
ISBN 9789791141116
462 halaman

Sesudah membaca buku 1 dari seri The Twig Saga yang merupakan bagian dari The Edge Chronicles, aku tidak sabar menunggu buku 2-nya. Seperti yang sudah kusebut sebelumnya, buku ini hanya 1 dari segabruk buku (11 buku, saudara-saudara!) dalam serial yang berkaitan dengan the Edge. Dengan harapan akan disuguhi dengan ilustrasi yang indah dan banyak lagi. Yah, yang jelas, covernya aja aku udah suka! Mengingatkan pada cover buku-buku Terry Pratchett yang edisi Corgi, cuma kalo covernya Pratchett ilustrasinya kontinu dari depan sampai ke belakang, memuat hampir semua tokoh dalam buku, sedangkan yang Stormchaser ini tidak kontinu.

Kalau kita ingat, buku 1 kemaren diakhiri dengan perjumpaan Twig dengan ayahnya, sang kapten kapal perompak langit, Quintinius Verginix, alias Cloud Wolf. Nah, buku ini diawali dengan berbagai kejadian di Undertown sebelum Cloud Wolf harus membawa kapal langitnya untuk mencari stormphrax. Mari kita ingat-ingat kembali peta The Edge: ada Hutan Deepwoods (di buku 2 disebut dengan Belantara Deepwoods), sebuah hutan lebat tak tertembus dan berbahaya; ada Hutan Twilight (di buku 2 disebut dengan Hutan Temaram), hutan bermandi cahaya yang membuat orang lupa segala; Rawa, yang berbau busuk tempat pembuangan limbah; the Edgeland, tanah gersang yang diduga adalah tempat tinggal hantu dan roh; Undertown, pusat perekonomian di The Edge; Taman Batu; dan Sanctaphrax, pulau kecil terapung yang diikatkan ke tengah Undertown dengan jangkar. Continue reading

Waking Lazarus

11626Oleh TL Hines
Diterjemahkan oleh Cahya Wiratama
Penerbit Bentang Yogyakarta, 2008
ISBN 9789791227438
387 halaman

Aku selalu tertarik dengan -entah itu- film ataupun buku bila judulnya ada kata Lazarus-nya. Istilah Lazarus sering muncul apabila seseorang kembali hidup sesudah resusitasi dianggap tidak berhasil lagi dan orang itu sudah dinyatakan mati. Istilah ini muncul dari cerita dalam Alkitab tentang Lazarus of Bethany (sebuah kebetulan atau tidak, penerbit asli buku ini adalah Bethany House Publisher) yang bangun lagi dari kematiannya sesudah dikuburkan selama 4 hari. Jadi kata “waking” pada judul buku ini sebenarnya tidak perlu.

Buku ini adalah buku thriller (dengan pesan-pesan religius tersembunyi di sana-sini), dan sekali memulai membacanya, agak sulit berhenti, karena ceritanya berjalan cepat dan menegangkan. Bagian-bagian awal cerita dimulai dengan flashback ke 24 tahun sebelumnya, ketika Jude Allman meninggal (dan hidup kembali) untuk pertama kalinya, pada usia delapan tahun, karena tenggelam. Selanjutnya, flashback terjadi berselang-seling dengan masa kini. Pada usia 16 tahun, Jude meninggal lagi, kali ini karena disambar petir. Dan kali ketiga, pada usia 24 tahun, Jude mengalami hal yang sama ketika dirinya mati beku dalam perjalanan pulang ke rumah dari tempatnya kuliah. Kembalinya Jude dari kematian selalu diikuti dengan rasa tembaga di mulutnya, suatu sensasi yang di bawanya dari Sisi Lain. Sejak itu, rasa tembaga itu selalu mengingatkannya dengan kematian. Continue reading

The Black Magician Trilogy 1: The Magician’s Guild (Persekutuan Penyihir)

magicians_guildoleh Trudi Canavan
Diterjemahkan oleh Maria M. Lubis
Mizan Pustaka, Bandung, 2008
ISBN 9789794335239
614 halaman

Teman-teman bilang buku ini kurang asyik sebagai cerita fantasi, bahkan penerjemahnya sendiri kurang antusias (walau dia mengatakan buku 2-nya akan lebih asyik). Tetapi aku kan orangnya suka penasaran, daripada nanti habis mati terus gentayangan, maka seri ini aku beli. Kalau ternyata kurang bagus, tidak dilanjutkan membacanya. Ternyata, eh, ternyata, belum lagi buku ini dibaca, buku 2-nya keluar, dan dengan suksesnya menjadi hadiah ulang tahunku hihihi…. Berarti memang ditakdirkan untuk membaca serial ini. Trilogi tentang penyihir ya. Hmm… sesudah Trilogi Bartimaeus, rasanya akan sulit menemukan serial yang bisa menyamai kedahsyatan plot dan ending-nya.

Sonea sekarang adalah seorang gadis muda penduduk Lingkaran Luar di kota Imardin, ibukota Kyralia. Di kota ini, terdapat kesenjangan jelas antara rakyat jelata dan kaum kaya yang tinggal di Wisma di Lingkaran Dalam. Orang-orang kaya ini ingin jalanan di Lingkaran Dalam dihuni hanya oleh mereka, tanpa perlu melihat gerombolan miskin, pengemis, gelandangan, dan pencuri. Keinginan mereka ini didukung oleh Raja, dan karena ricuhnya jalanan akibat kehendak Raja ini, Raja meminta bantuan Persekutuan Penyihir, yang hanya tunduk kepada perintah Raja. Pengusiran rakyat jelata ini disebut Pembersihan Kota. Continue reading

Wedding Officer (Pejabat Pernikahan)

the_wedding_officeroleh Anthony Capella
Diterjemahkan oleh Gita Yuliani K
Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2008
ISBN 9789792241426
560 halaman

Fiiiuhhh, puas kan tebalnya? Buku ini tebuaaaal banget, tapi seberapa cepat aku menyelesaikannya? Satu hari saja. Hebat kan hebat kan hebat kan. Bukan hebat sebenarnya, tapi aneh. Padahal ini genrenya romance loh sodara-sodara, terlihat dari covernya. Apalagi cover buku aslinya, kayak buku Harlequin deh. Aku curiga ceritanya a la Harlequin juga, bagaimana pun itu, secara aku tidak pernah baca Harlequin, hahaha….

Kenapa oh kenapa aku beli buku genre romance? Karena covernya! Bagus kan ya warnanya? Tebal juga. Selain itu, karena kata Kobo buku ini penuh dengan deskripsi makanan, dan karena katanya reviewnya bagus, aku beli lah. Kebetulan Kubugil juga menjadikan buku ini buku baca bareng bulan Januari. Kali ini hadiahnya coklat, hihihi, komunitas pembaca buku yang aneh. Eh tapi Kubugil kan bukan hanya komunitas pembaca buku yah. Silakan yang lain yang mau ikutan baca bareng.

burrata21Baiklah, cukup menyanyahnya. Bab pertama dimulai dengan deskripsi berbagai makanan Italia yang begitu mendetail sehingga kita bisa membayangkan bentuk dan rasanya. Tapi yang paling bikin aku kepingin adalah burrata, kantong-kantong kecil keju mozzarella segar yang berisi krim susu dan dibungkus jalinan daun asphodel. Katanya, daun asphodel ini menjadi indikator kesegaran burrata. Selama daunnya masih hijau, berarti kejunya masih segar. Bisa dibuat dari susu sapi ataupun kerbau, dan mozzarella dari kerbau jauh lebih putih. Di buku ini, Pupetta dan Priscilla, disebut sebagai dua ekor sapi, namun Livia memanggil mereka sebagai buffale dan disebut bahwa susu yang mereka hasilkan putih bersih, jadi mungkin sebenarnya mereka berdua ini kerbau.

burrata3Makanan lezat ini dan banyak lagi makanan Italia lainnya dibuat oleh tangan handal Livia Pertini, seorang gadis di desa Fiscino yang terletak di lereng Vesuvius, memenuhi permintaan orang-orang yang makan di osteria (tempat makan, minum, dan bersosialisasi) milik ayahnya. Orang Italia dikenal sangat menghargai dunia kuliner dan, seperti orang Jepang juga, bisa duduk berjam-jam untuk makan, minum, dan bercakap-cakap. Selain jago masak, Livia juga jago bersilat lidah, mengingatkan kita pada tokoh-tokoh utama di buku Jane Austen dan Katie Fforde (kalau yang berkaitan dengan makanan, baca deh yang judulnya Thyme Out). Sepanjang buku kita disegarkan dengan kalimat-kalimatnya yang cerdas.

Cerita dimulai pada tahun 1940. Sesudah perkawinan Livia dengan Enzo, seorang tentara Italia yang tinggal di Napoli, cerita kemudian meloncat 4 tahun ke depan, ke bulan Februari 1944, empat tahun sejak keberangkatan Enzo ke medan Perang Dunia kedua. Livia pulang ke Fiscino, dan mengalami masa-masa terberat selama perang, karena tidak ada bahan makanan untuk dimakan, apalagi dijual. Sementara itu, di Napoli, datang seorang prajurit Inggris berusia 22 tahun, Kapten James Gould, yang menggantikan Kapten Jackson, yang bertugas sebagai Wedding Officer. Apa sebenarnya deskripsi tugasnya? James sendiri tidak begitu mengerti, sampai dia bertemu Jackson. Ternyata, sejak Sekutu datang ke Italia, banyak serdadu ingin mengawini wanita-wanita Italia, tidak heran sih, kalau mengingat penampilan wanita Italia pada umumnya. Tugas Wedding Officer adalah berusaha sedapat mungkin menghalangi perkawinan tersebut, karena katanya perkawinan membuat tentara-tentara itu lembek, tentunya mereka tidak mau meninggal dalam perang karena ada istri Italia menunggu di rumah.

Nah, James adalah orang yang idealis dan berdedikasi. Dia melaksanakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, walau pada awal-awal dia sering tertipu oleh mulut manis para calon pengantin. James juga menghapuskan korupsi dan perdagangan gelap, membuat para pebisnis di Napoli menjadi gerah. Bagaimana cara mereka mengatasi hal ini? Tidak, menggoda James dengan uang tidak berhasil, apalagi dengan wanita, sesuatu yang aneh menurut hemat para pria Italia itu.

Namun, pucuk dicinta ulam tiba. Livia, sesudah kematiannya suaminya, dan dalam usahanya menghidupi diri dan keluarganya tanpa harus meminta belas kasihan cowok mata keranjang di desanya, yaitu Alberto, terdampar kembali di Napoli, dan berkenalan dengan salah satu pebisnis gerah tersebut. Karena James dikenal sebagai orang yang sangat menghargai makanan enak (selain menurut pria Italia, pria dengan perut kenyang adalah pria yang bahagia), apalagi saat itu kokinya James hanya bisa memasak sup encer dengan isi “daging dan sayuran” kalengan, maka dengan lihai, Angelo, pemilik rumah makan yang ditutup oleh James, memasukkan Livia sebagai juru masak di kantor sekaligus kediaman James. Jalan cerita sisanya sudah bisa kita duga.

Senangnya, James ini tipikal cowok penuh integritas, tetapi naif. Yah, walau naif, pastinya dia tampan (mungkin ya, tidak ada deskripsinya, sih) dan bisa mengimbangi Livia dalam hal bercakap-cakap. Seperti biasanya cerita romance, ada adegan cinta-cintaannya. Terlalu banyak malah bertebaran sampai akhir buku. Perubahan James menjadi karakter yang lebih adorable benar-benar menarik. Lagi-lagi, mengingatkan kita pada tokoh-tokoh cowok di buku Jane Austen dan Katie Fforde yang biasanya smart, keren, berlidah tajam, tetapi baik hati. Sementara itu, Livia sendiri berkembang dari gadis yang dimabuk cinta remaja menjadi wanita yang berkepribadian dan mempunyai harga diri.

Bagaimana mungkin seorang Wedding Officer memberikan contoh buruk dengan berpacaran dengan wanita Italia? Apakah mereka harus pacaran sembunyi-sembunyi?  Cerita kemudian dibikin lebih rumit dan tegang dengan letusan besar Vesuvius pada bulan Maret 1944, dengan lahar yang mengaliri Fiscino. Adegan kejar-kejaran James dan Livia yang terus terpisah jauh cukup menyenangkan pembaca yang gak suka romance seperti aku ini.

*SPOILER ALERT* Pada akhirmya, happy ending-lah pokoknya. Livia wanita yang kuat, sedangkan James laki-laki yang setia dan siap berkorban jiwa-raga. Bahkan tokoh menyebalkan dalam cerita ini juga akhirnya bisa kita pahami jalan berpikirnya. Ya, bahkan semua tokoh yang disebut sedikit-sedikit saja pun di depan mempunyai ending yang happy di akhir buku. Dongeng banget pokoknya. Tapi kemudian, kalau tidak begitu, aku akan sebal, bukan? Oya, bahkan sampai bagian akhir, makanan masih disebut-sebut. *SPOILER ALERT ENDS*

Saya beri bintang 4 dari 5 untuk buku fiksi berlatar belakang sejarah ini. Oya, buku ini diterjemahkan dengan bagus dan nyaman dibaca. Kabarnya buku ini akan diadaptasi menjadi film, menurut IMDB akan dirilis tahun 2011.

Untuk latar belakang pembuatan cerita ini, silakan berkunjung ke situs pengarangnya di sini. Rupanya si penulis berteman dengan si keren Jamie Oliver, The Naked Chef.

Gambar burrata diambil dari halaman Poehl am naschmarkt News dan Azienda Agrocla Conte.